
Pada bulan Ramadan, hal yang paling dinanti adalah waktu berbuka puasa. Setelah seharian menahan lapar dan dahaga, momen ini terasa begitu istimewa. Setiap orang punya cara tersendiri untuk menunaikan puasanya.
Ada yang menghabiskan waktu dengan beribadah sepanjang hari, ada yang lebih banyak tidur–dengan dalih bahwa tidur adalah sebagian dari ibadah, dan ada juga yang mencari kesibukan agar waktu lebih cepat berlalu. Begitu juga dengan cara menunggu waktu berbuka, setiap orang punya kebiasaan masing-masing.
Salah satu tradisi yang tak terpisahkan dari bulan Ramadhan di Indonesia adalah ngabuburit. Ngabuburit menjadi aktivitas favorit banyak orang, terutama saat sore menjelang buka. Biasanya, ngabuburit dilakukan dengan jalan-jalan santai, berburu takjil, atau berkumpul bersama keluarga dan teman. Kegiatan ini tak hanya menjadi cara menghabiskan waktu, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antaranggota keluarga maupun komunitas.
Mendekati buka, ada satu jenis makanan yang nyaris selalu hadir di meja makan keluarga-keluarga Indonesia: gorengan. Olahan yang digoreng seperti tahu isi, tempe mendoan, dan pisang goreng selalu menjadi pilihan utama karena rasanya gurih dan cocok dinikmati dengan teh manis hangat. Namun, di antara berbagai jenis gorengan, bakwan atau bala-bala menjadi yang paling populer.
Menariknya, meskipun bentuk dan rasanya sama, makanan ini memiliki berbagai nama berbeda di berbagai daerah. Di Jakarta dan sekitarnya, makanan ini lebih dikenal dengan sebutan “bakwan.” Namun, jika kita pergi ke Jawa Barat, terutama di daerah yang mayoritas penduduknya suku Sunda, makanan ini disebut “bala-bala.” Sementara itu, di Banyuwangi, masyarakat setempat menyebutnya “hongkong” atau “ote-ote.”
Bahkan, di Cirebon, makanan yang sama ini disebut “kue bawang.” Yang paling unik, di daerah Ponorogo, makanan ini memiliki sebutan lain yang tak kalah menarik: “piya-piya.” Tak jelas asal-usul nama tersebut, tetapi masyarakat setempat sudah terbiasa menyebutnya demikian, dari generasi ke generasi. Perbedaan nama ini sering memunculkan perdebatan kecil yang menarik. Apa sebenarnya nama asli makanan ini? Dari mana asal-usulnya? Kenapa ada banyak nama berbeda di pelbagai daerah?
Apabila ditelusuri, bakwan ternyata memiliki akar sejarah dari kuliner ala Tionghoa. Nama “bakwan” berasal dari bahasa Hokkien, di mana “bak” berarti daging dan “wan” berarti bola. Pada awalnya, bakwan merupa makanan berbahan dasar daging yang dibentuk menjadi bola-bola kecil, mirip dengan bakso yang dikenal di Indonesia saat ini.
Namun, seiring waktu dan proses akulturasi, bahan dasar daging dalam bakwan diganti dengan campuran tepung dan sayuran; wortel, kol, dan daun bawang. Perubahan ini membuat bakwan lebih sesuai dengan selera masyarakat Indonesia dan lebih ekonomis, bahan-bahannya pun mudah ditemukan.
Baca juga: Kondisi Iklim, Keberlanjutan Ekologi dan Kritik (lewat) Musik
Meski asal-usul bakwan berasal dari kuliner Tionghoa, masyarakat Indonesia sudah lama mengadopsinya sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. Pergeseran bahan dan penyajian yang terjadi menunjukkan bagaimana sajian makanan dapat berkembang sesuai dengan lingkungan dan kebiasaan masyarakat. Tak hanya itu, perbedaan penyebutan di berbagai daerah juga mencerminkan rupa-rupa bahasa dan budaya di negara-bangsa Indonesia.
Di Jakarta, istilah “bakwan” lebih umum digunakan, mungkin karena pengaruh bahasa Hokkien lebih kuat di daerah ini. Sementara di Jawa Barat, istilah “bala-bala” lebih dikenal dan banyak digunakan oleh masyarakat Sunda. Tidak jelas bagaimana nama “bala-bala” muncul, tetapi kemungkinan besar istilah ini berkembang dari kebiasaan masyarakat lokal dalam menamai makanan berdasarkan tekstur atau tampilannya.
Di Banyuwangi, istilah “hongkong” atau “ote-ote” mungkin berasal dari pengaruh budaya lokal yang berbeda. Sedang di Cirebon, nama “kue bawang” menjadi sebutan unik untuk makanan yang sama–yang barangkali mengesankan camilan yang berbahan dasar bawang. Tentu saja, yang paling menarik–setidaknya bagi saya–adalah sebutan “piya-piya” di Ponorogo, yang terdengar cukup berbeda dibanding nama lainnya.
Baca juga: Comfort Food Memoirs: Satu Buku untuk Sejuta Cerita Makanan
Perbedaan nama untuk makanan yang sama sebenarnya bukan hal yang aneh di Indonesia. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar di penjuru negeri, tak heran jika satu jenis makanan bisa memiliki sebutan macam-macam. Contoh lainnya adalah pisang goreng, yang di beberapa daerah disebut “gedhang goreng” dalam bahasa Jawa, sementara di Makassar dikenal dengan sebutan “pisang epe” jika dipipihkan lalu dipanggang.
Namun, apakah perbedaan nama ini membuat makanan ini berbeda? Tentu saja tidak. Apa pun sebutannya, bakwan, bala-bala, ote-ote, kue bawang, atau piya-piya tetap memiliki cita rasa yang sama yaitu gurih, asin, renyah di luar, dan lembut di dalam.
Keunikan kuliner Indonesia justru terletak pada keberagaman ini. Makanan yang sama bisa memiliki banyak identitas, dan menjadi bagian yang lekat dalam kehidupan multikultural Indonesia.
Perbedaan ini juga sering kali memunculkan percakapan menarik di media sosial atau dalam obrolan sehari-hari. Banyak orang merasa heran ketika mendengar bahwa makanan yang mereka kenal sebagai “bakwan” ternyata disebut “bala-bala” di lain tempat. Beberapa orang mungkin bersikeras bahwa nama di daerahnya adalah yang paling benar, sementara yang lain hanya tertawa dan menerima bahwa di Indonesia, satu makanan bisa punya banyak nama.
Pada akhirnya, tidak ada jawaban pasti tentang mana nama yang benar untuk makanan ini. Semua tergantung pada daerah tempat seseorang tumbuh dan terbiasa mendengar penyebutan tertentu. Yang pasti, bakwan atau bala-bala tetap menjadi makanan favorit banyak orang, terutama saat berbuka puasa di bulan Ramadhan.
Lalu, bagaimana dengan kalian? Apa sebutan makanan ini di daerah kalian?



