Ilustrasi dari Kompas.id

Dalam kesejarahan lahirnya ilmu pengetahuan, bahasa menjadi alat penting untuk mengembangkan keilmuan sebagai kemajuan kebudayaan bangsa. Dahulu, para ilmuwan terlanjur tekun menerjemahkan berbagai manuskrip-manuskrip untuk melahirkan ilmu dan peradaban umat manusia.

Kesejarahan ilmu pengetahuan itu memang tidak lepas dari bahasa dan peradaban bangsa Yunani. Para filosof terdahulu rajin menulis mengenai kegelisahan-kegelisahan seputar ilmu kehidupan duniawi. Para filosof seperti Scocrates, Plato, dan Aristoteles adalah pengagas awal ilmu pengetahuan terutama tentang pemikiran filsafat dan logika.

Dari pemikiran ilmu filsafat dan logika itulah perkembangan ilmu semakin tumbuh begitu cepat. Pertumbuhan keilmuan itu berlanjut dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim pada masa Abbasiah. Sejak masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid telah banyak menerjemahkan buku-buku dari Yunani demi kepentingan pendidikan, ilmu sains dan ilmu sosial.

Terjemahan itu melahirkan ilmu-ilmu sains, kimia, fisika, astronomi, matematika, kedokteran dan lain-lain. Para ilmuwan muslim pada masa itu telah mencatat sejarah bahwa umat Islam pernah mengalami kejayaan ketika mempelajari berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dari hasil terjemahan.

Baca juga: Menyigi Bahasa Indonesia di Ruang Virtual

Dari kesejarahan itu kita pun mafhum, bahwa bahasa menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan. Bahasa tidak hanya sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai sarana untuk mengembangkan kehidupan dan peradaban modern.

Tentu peristiwa itu telah terjadi pasca runtuhnya kolonialisme di beberapa negara jajahan. Sejak abad ke-21 telah menandai bahwa peradaban teknologi sangat mempengaruhi kultur kehidupan sosial terutama pada penggunaan bahasa. Bahasa menjadi pelajaran penting dalam lembaga institusi pendidikan dasar maupun perguruan tinggi. Itu disebabkan lantaran bahasa menjadi alat untuk menekuni bidang kajian keilmuan muthakir: terutama bahasa Inggris.

Perkembangan dan tuntutan menguasai bahasa Inggris terjadi di lembaga pendidikan di berbagai belahan dunia. Sebab bahasa Inggris telah resmi menjadi bahasa yang menyatukan warga dunia untuk komunikasi dan sebagai bahasa untuk mendalami ilmu-ilmu teknologi.

Maka di negara-negara maju maupun berkembang, bahasa Inggris dijadikan mata pelajaran wajib bagi pelajar di berbagai sekolah-sekolah. Peristiwa itu yang pernah dikisahkan Wang Gang dalam novel berjudul English (2013). Di masa revolusi China, Wang Gang mengisahkan seorang bocah yang sedang mempelajari bahasa Inggris di masa pergolakan.

Bahasa bukan hanya sekadar sebagai  bahan pembelajaran tetapi juga dapat menentukan harapan di masa depan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan

Love Liu seorang bocah yang tumbuh di kota Ürümchi yang mulai menekuni bahasa Inggris. Di sekolah, ia bertemu Second Prize Wang, guru pengajar bahasa Inggris di sekolah di kota Ürümchi. Adanya bahasa Inggris di sekolah itu membuat pelajaran bahasa Rusia dan bahasa Uyghur mulai tersingkir. Kebijakan internal di sekolah yang dianut oleh pendidikan di negara China menganjurkan mempelajari bahasa Inggris sebagai kebudayaan keilmuan dalam perkembangan modernitas.

Anak-anak di kota Ürümchi mulai mempelajari bahasa Inggris secara lisan, mulai dari struktur bahasa dan pengucapan abjad bahasa. Mereka menggunakan Abjad Fonetis Internasional sebagai metode pendidikan pengajaran. Kedatangan bahasa Inggris di sekolah tidaklah lantas membuat anak-anak di kota Ürümchi langsung gembira.

Mereka juga masih merasa kesedihan dan kesusahan melafalkan bunyi huruf dalam bahasa Inggis. Love Liu dan Garbage Li adalah murid-murid yang dulunya tidak menyukai bahasa Inggris. Namun sejak Sunrise Huang murid terpandai di kelas mampu melafalkan bahasa Inggris dengan sangat jelas dan indah, mereka mulai iri dan mulai mempelajari bahasa Inggris dengan tekun.

Ketekunan Love Liu telah membuatnya semakin pandai dalam berbahasa Inggris. Demi menyaingi Sunrise Huang di kelas, mereka harus belajar dengan tekun untuk menjadi perwakilan kelas dalam perlombaan bahasa Inggris. Persaingan itu memicu semangat dalam menjalani proses belajar.

Dari kisah persaingan Love Liu dan Sunrise Huang itu banyak mengajarkan kita arti menuntut ilmu dengan ketekunan demi mencapai harapan serta keberhasilan. Bahasa bukan hanya sekadar sebagai  bahan pembelajaran, tetapi juga dapat menentukan harapan di masa depan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Kisah Keluarga

Selain kisah di kota Ürümchi, kisah bahasa Inggris  juga terjadi di India. Dalam film English Vinglish (2012)  mengisahkan ratapan kesedihan yang dialami seorang ibu bernama Shashi. Di keluarga India, Shashi sebagai ibu yang kurang mampu bercakap bahasa Inggris dengan baik. Kelemahan itu seringkali membuatnya sedih tatkala merasa kurang memiliki kehormatan dihadapan anak-anak dan keluarganya.

Mereka sering merasa malu memiliki ibu yang lemah melafalkan bahasa Inggris. Demi mendapatkan kehormatan keluarga, ia lantas mulai menekuni bahasa Inggris ketika mengunjungi pernikahan keponakannya di Amerika. Di Amerika, Shashi secara sembunyi-sembunyi belajar bahasa Inggris di New York Language Center. Di sanalah ia belajar hanya beberapa pekan tanpa sepengetahuan keluarganya.

Dari hasil pembelajaran itu, Shashi ingin membuktikan bahwa ia juga dapat menguasai bahasa Inggris agar tidak selalu diremehkan dan direndahkan oleh keluarga. Keberhasilan itu Shashi telah buktikan tatkala sedang memberikan lantunan kata dan doa dengan bahasa Inggris dalam acara pernikahan.

Keberhasilan itu pula yang mampu merekatkan kembali rasa cinta dan rasa hormat dalam keluarga kecilnya. Kisah-kisah pembelajaran bahasa Inggris tampaknya tidak hanya sekedar dalam urusan pendidikan, ekonomi, politik, kebudayaan semata, tetapi juga mampu berkaitan dengan keharmonisan keluarga.

Selain kisah keluarga dari India, bahasa Inggris juga pernah dikisahkan oleh seorang professor asal Indonesia. Dari buku berjudul Antara Barat dan Timur (2015) gubahan Al-Makin, mengisahkan pengalamannya mempelajari bahasa Inggris demi mengunjungi dan belajar ke Barat. Sejak menjadi mahasiswa pada 1992 di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al-Makin termasuk mahasiswa yang tekun belajar bahasa.

Di masa itu pula, ia pernah terpilih menjadi mahasiswa yang memperoleh beasiswa Supersemar. Beasiswa itu tidak pernah dibelikan baju,celana, ataupun minyak wangi, melainkan hanya untuk membeli radio merk Sony supaya dapat mendengarkan bahasa di Australia, Amerika, dan Inggris.

Selama berbulan-bulan, Al-Makin melulu mendengarkan penyiar berita di berbagai negara tersebut tanpa ia mengerti. Selama sebulan, Al-Makin merasakan ketidakpahaman apa yang disampaikan penyiar radio itu. Ketidakpahaman itu membuat ia sembari berdzikir kepada Tuhan untuk memohon kemudahan.

Baca juga: Mengingat Kembali Bahasa Simbol

Maka selama sebulan lebih, Al-Makin mulai mengerti apa yang disampaikan penyiar berita. Ketekunannya dalam belajar bahasa Inggris tidak hanya sampai mendengarkan saja, ia juga tekun menerjemahkan beberapa buku bahasa Inggris yang cukup tebal dengan kamus dalam setiap kata per-kata. 

Ia sregep meminjam buku dan majalah bahasa Inggris di perpustakaan Kolese Ignatius, Kotabaru, Yogyakarta. Pengisahan itu seringkali ia kemukakan kepada para mahasiswanya ketika belajar sosiologi agama. Ia selalu menyampaikan bahwa bahasa Inggris wajib dipelajari bila ingin belajar ke Barat.

Ia selalu mengkritik para mahasiswa yang malas, dengan nasehat bahwa akses untuk memperoleh pengetahuan kini terasa begitu mudah. Berbagai fasilitas internet semestinya mampu membuat mahasiswa semakin cerdas. Pesan itulah yang semestinya kita renungkan dalam menjalani proses belajar di perguruan tinggi.

Maka ketekunan Al-Makin sejak menjadi mahasiswa S1 telah mengantarkan studi lanjutnya ke Barat dari hasil tekad belajar. Ia telah membuktikan bahwa peran bahasa Inggris mampu mengantarkannya pada samudera ilmu pengetahuan.[]

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here