:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/09/11/e2d2c549-857d-4d5a-8577-10de23b29aa9_jpg.jpg)
“Radio cerahkan hidupnya” — Sheila on 7-Radio
Radio adalah alat komunikasi yang tak manja. Saat menghidupkannya, kita tak dipaksa untuk tetap menemaninya tiap waktu. Menikmati radio, bisa sambil nyapu, sinau, umbah-umbah, isah-isah, menyetrika, atau pekerjaan lainnya. Radio tetap ikhlas dan bersetia mengumandangkan siarannya meski ditinggal kemana-mana, disambi apa-apa. Sangat pas jadi teman menekuri kegiatan atau merintangi waktu senggang.
Saya tumbuh bersama radio di rumah. Ini, sebenarnya, bisa terjadi gegara televisi telat masuk rumah. Orang tua, lebih tepatnya bapak saya, memiliki alasan tersendiri mengapa tak ingin buru-buru menghadirkan televisi di rumah. Konon katanya, benda kotak memancarkan audiovisual ini membuat lupa waktu dan memapras jam belajar.
Episode masa kecil yang, saya ingat rapat-rapat dalam memori kepala saya, lantas dipenuhi senandung dendang radio. Saya mengerti radio itu selalu dipenuhi lagu-lagu. Senandung memendar-memercik dalam ingatan. Saya berkenalan tanpa berjabat tangan dan perlahan-lahan mengakrabinya. Setelah menyalakan radio dengan menancapkan kabel ke suplai daya, saya harus memutar-mutar tuning dulu agar menemukan frekuensi dengan jernih alias tidak kemresek. Mencari kanal radio ini juga melatih kesabaran lho.
Yang paling saya tunggu dari siaran radio, jelas adalah siaran musiknya. Beragam musik mulai mengalun dan masuk di telinga. Musik-musik pop Indonesia atau Barat (alias yang berbahasa Inggris) sedikit-banyak mengantarkan saya merasai dunia, tak melulu lewat dangdut yang lazim disetel dimana-mana. Meski banyak juga lagu yang diputar berbahasa Inggris, dan saya sama sekali tak mengerti maknanya, dan melafalkan lirik-liriknya pun sering belepotan, asal asyik dan nyaman saja di gendang telinga, mantab sajalah!
Pagi-siang-sore-malam, siaran radio terus mengudara. Saat sarapan sebelum berangkat sekolah, radio menyala¾menghiasi pagi dan “meminjamkan harapan”. Pulang, di kala siang terik atau sudah meremang senja, radio menemani mengusir penat. Malam pun tiba, radio jadi teman menyuntuki pelajaran dan gelontoran PR dari guru di sekolah. Sedang bapak nglembur di bangku kerjanya, dengan setumpuk berkas dan lampu belajar menerangi meja.
Baca juga: Yang Unik dalam Lesung Pipi Karya Raim Laode
Tempo jatuh bulan puasa, radio ikut menambah-menggeser program-program acaranya. Tak mau kalah dan heboh dengan jadwal program teve. Ramadhan memang jadi momentum tersendiri bagi media-media Indonesia. Kita tak bisa menafikan itu.
Satu acara khusus bulan ramadhan, umpamanya, adalah serial yang diputar saat sahur. Serial ini berlangsung cuma pas Ramadhan, jadi hanya sebulan. Ibu sering membangunkan saya dengan godaan kisah yang dialami tokoh utama dari serial radio itu. Saat di meja makan pun, radio masih dibicarakan. Ia berada di antara selingan dan obrolan anggota keluarga sembari santap sahur dengan mata (masih) merem-melek.
Radio menemani hidup manusia membentuk biografi dalam segala hal. Bermodal suara, radio membuat pikiran membumbung tinggi. Daya khayal diajak menari-nari, mengalun bersama. Ini pula yang dirasakan dan dihasrati betul oleh Ulid, sebagai bocah yang gandrung radio dan sandiwara kolosal yang diputar sebagai siaran rutin, selaku tokoh utama dalam novel perdana Mahfud Ikhwan, Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Pas punya radio, Ulid bisa mendengarkannya dengan khusyuk-nikmat. Tak ada yang bisa mengalahkan atau memisahkan kedekatan Ulid dengan radio.
Adanya radio memang menawarkan kesenangan dan kenikmatan tersendiri, bagi Ulid yang punya tugas menggembalakan kambing. “Kesenangan yang dimaksud adalah saat menunggangi kambing, sementara radio National kecilnya, yang kini sudah tidak berjarum gelombang tanpa antena, dan tali gantungnya telah berganti dengan pilinan sobekan kain sarung, terkalung di lehernya dan memperdengarkan sandiwara radio paling mutakhir.”
Ulid antusias banget mengonsumsi radio. Di sekolah, ia lantas mengobral apa saja yang didengar-didapat dari radio di hadapan teman-temannya. Radio jadi bekal perbincangan memikat (pada) teman sebaya. Ketelatenan bersama siaran radio mengesahkan Ulid sebagai pendengar setia.
Pada edisi 5 September 2021, Harian Kompas memuat jajak pendapat tentang eksistensi radio di zaman digital. Dari hasil survei tersebut-sebut, tujuh dari sepuluh responden memilih menggunakan radio antena berbentuk fisik atau radio di mobil. Namun, banyak pula yang memakai aplikasi radio di gawai dan streaming di situs-situs. Satu alasan yang membikin pendengar setia bertahan menikmati program radio adalah kebutuhan informasi atau berita.
Jika boleh dikata, selain keinginan mengikuti berita mutakhir, seolah memang ada kedekatan dan ajakan bagi pendengar, meski dengan bentangan jarak yang jauh, untuk benar-benar berinteraksi dengan penyiar. Apalagi, sebagian besar radio menerima kiriman pesan yang berisi titip salam atau minta lagu.
Baca juga: Panggilan Buku dan Daya Magis Membaca
Dari kesempatan ini, siapa saja boleh berkirim-kirim salam serta menanti lagu favorit dimainkan. Pemutaran acak membuat kita menunggu dan mengenali lagu-lagu lain, dari beragam genre pula. Kita tak protes dan berterima saja. Sensasi yang disodorkan radio semacam ini memang tak tergantikan!
Band indie tahun 2000-an yang bermarkas di ibu kota macam The Upstairs sempat membuat lirik tentang radio. Kita cerap lagu berjudul “Sekelebat Menghilang” ini. “Gelombang tertangkap telinga/ menembus dinding bubarkan sedih yang datang/ disela sesal manisnya yang telah terukir zaman, membangkitkan gelombang pikiran… Penuh kisah keseharian/ memutarkan lagu yang pas keadaan”
Persembahan dari radio membubarkan rasa sedih. Secara apik-biografis, radio menggambarkan sesuatu yang pas keadaan. Rasa gundah dan gelisah pun agak terobati. Dendang radio, dengan konsekuensi ini, adalah obat mujarab tanpa perlu digerus atau ditelan.
Pada masa kolonial, jika kita melampau ke masa lalu, rupanya radio jadi media yang cukup penting. Kita mendapati penjelasan detail ini di buku Enggineers of Happy Land (2006) karangan Rudolf Mrazek. Radio itu barometer dan perlengkapan cukup monumental dan populer di rumah-rumah keluarga di Hindia Belanda.
Kita simak penjelasan pakar sejarah modern Asia Tenggara itu. “Berbeda dengan mobil, pesawat radio di Hindia Belanda itu biasanya dijual di toko-toko musik dan toko piano. Bagi mata masyarakat Hindia Belanda, mereka itu tampak sebagai semacam pernik-pernik baru yang sensasional, ‘perabotan baru yang fantastik’¾tanpa perabot listrik ini, segera, tak ada rumah modern yang dianggap lengkap.” Kecanggihan radio beserta suaranya termasuk alat komunikasi yang fenomenal hingga memeriahkan Hindia Belanda di tengah nasib anak jajahan. Tanah jajahan riuh-rendah oleh suara-suara siaran.
Kini, saat jagat digital mulai jadi kewajaran dan tuntutan, suara radio masih menggema di mana-mana. Radio enggan surut atau kukut meski diserbu media (maya) baru. Radio pun gigih bertahan dan diminta—secara paksa—berdaptasi-berinovasi.
Kita masih menjumpai-mendengar dendang radio di tengah kepungan piranti digital. Radio pun terlipat di saku. Kecil-mungil.



