
Islam dan modernitas bagi sebagian orang dianggap sebagai dua hal yang tak bisa menyatu padu. Dikotomi ini seakan-akan membentuk pandangan dunia bahwa orang-orang muslim dalam menjalani kehidupan tidak mampu menerima modernitas dan segala hal yang melingkupinya. Pandangan tersebut dilekatkan pada perangkat-perangkat modernitas yang bersifat dinamis, sedangkan Islam dianggap agama normatif-statis.
Keadaan tersebut memberi stigma negatif terhadap Islam dan kaum muslim. Terlebih lagi, Islam dan kaum muslim telah menanggung stigma negatif akibat peristiwa 11 September 2001 sebagai gejolak ekstrimisme yang mengatasnamakan agama Islam.
Sebagai konsekuensi logis, Generasi Muda muslim secara global menjadi tumbal atas stigma islamophobia pasca peristiwa tersebut. Stigma buruk ini secara otomatis dilabelkan kepada Islam dan muslim sebagai penganutnya dengan framing negatif mulai dari sebutan teroris, radikalis, ekstremis dan fundamentalis.
Merespons fenomena tersebut, Shelina Janmohamed seorang Muslimah Inggris melalui bukunya yang berjudul Generation M: Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia (2017) mengelaborasi berbagai momen, ekspresi dan pengalaman kalangan muda muslim di berbagai belahan dunia dalam menjaga marwah Islam.
Baginya, Generasi Muda muslim muncul ke dunia dengan persepsi baru dan autentik sehingga dapat menjadi tandingan sekaligus perlawanan atas islamophobia. Argumentasi utama buku ini ialah bagaimana Generasi Muda muslim global berupaya menegosiasi identitas keislaman dalam menjalani kompleksitas kehidupan modern tanpa harus menanggalkan keislamannya.
Buku Generation M ini memuat lima bab pokok pembahasan dimana masing-masing bab terdapat sub-sub pembahasan. Pada bab pertama, Shelina mengutarakan bahwa Generasi Muda muslim selama ini tumbuh di bawah penghakiman global akibat peristiwa 11/9.
Intensitas cap buruk ini tidak kemudian melemahkan keimanan mereka, justru mereka semakin gigih melawan stigma yang dianggap keliru. Mereka menampik hal tersebut sekaligus menjadi duta bagi agama mereka yang pada hakikatnya ramah dan santun. Generasi M menjadi babak baru yang mencuat dan mengagumkan, sebab mereka melihat dunia dengan penuh optimistik, energik dan kreatif.
Di samping itu, mereka meyakini bahwa modernitas tak berlawanan dengan agama. Selama mereka menjalani modernitas dengan landasan keimanan, maka modernitas tidak menjadi sebuah hal yang harus dipermasalahkan.
Baca juga: Tawa Digital, Sunyi di Balik Generasi Z
Sikap mereka begitu tegas bahwa agama dapat menjadikan modernitas semakin baik, begitu pun sebaliknya modernitas memberi benefit yang baik bagi agama. Berkaitan hal ini, Shelina memberi contoh kehidupan seorang Muslimah Layla Shaikley yang sering membagikan video Mipterz yang menampilkan kehariannya dengan pakaian berhijab dan skateboard.
“Modernitas tidak bertentangan dengan agama selama proses menjalani kehidupan modern tetap berlandaskan pada nilai-nilai keimanan dan keislaman. Modernitas menjadi lebih baik karena ada peran agama, begitu pun sebaliknya”
Bab dua, Shelina mengeksplorasi fenomena gaya hidup islami global. Pada bagian ini, ia memulainya dengan sikap Generasi M yang jatuh hati pada segala sesuatu yang halal. Konsep halal merupakan poros dan kompas hidup setiap orang muslim. Generasi M mulai menerapkan aturan halal ini di segala aspek kehidupan mereka, sehingga pada akhirnya mencipatakan gaya hidup yang islami. Gaya hidup islami ini mencakup di antaranya terkait pakaian, produk kecantikan, konsumsi makanan dan minuman.
Kehidupan sehari-hari bagi mereka adalah rangkaian dari keputusan dalam menentukan dan memilih produk-produk halal. Sejalan dengan hal itu, Shelina merepresentasikan seorang Muslimah Amerika, Sabiha Ansari. Menurut Sabiha, soal fesyen dan penampilan tak boleh sembarang mencomot toko tertentu, mesti dipertimbangkan atas dasar selera dan kepatut-sopanan modelnya. Bagi Sabiha, menjalani gaya hidup islami persis melibatkan keridhaan Allah atas proses kehidupan, dan mengikuti jalan Nabi Muhammad.
Bab Tiga, Shelina mengulas tentang budaya baru muslim keren. Pada bagian ini, Generasi M berhak untuk keren dan gaul mulai dari selera musik, bahasa keseharian, kecantikan, sampai pada inspirasi pahlawan super dalam movie/film. Budaya mendengarkan musik R&B dan lagu Maher Zain menjadi salah satu musik yang digandrungi Generasi M. Kelebihannya terletak pada musik dan videonya yang menyajikan keceriaan, cinta dan suara merdu.
Kreasi tersebut memberikan energi positif bagi pertumbuhan Generasi M untuk membangun menjalin interaksi antar muslim dan masyarakat luas. Selain itu, Sami Yusuf seorang penyanyi Inggris keturunan Armenia juga dianggap sebagai bintang pop bagi Generasi M. Musik dan lagu Sami Yusuf diramu dan diciptakan dengan mengekspresikan nilai-nilai agama sebagai pesan yang disampaikan kepada pendengarnya untuk menjalani hidup dengan baik.
Selain musik pop, nasyid menjadi representasi musik tradisional yang juga banyak didengar Generasi M. Genre nasyid kerap disajikan seniman yang kini mulai dikenal secara global seperti Raihan yang bernyanyi dengan Bahasa Melayu. Nasyid menjadi musik religi yang diciptakan sebagai warisan bagi Generasi Muda muslim masa kini yang dikombinasikan melalui bunyi dan makna.
Bahasa gaul juga menjadi budaya keren Generasi M, dimana mereka memodifikasi percakapan dengan menggabungkan istilah agama dan bahasa sehari-hari. Pada tataran ini, lahir istilah hijabers atau jilbabers bagi perempuan muslim trendi. Tak berhenti di situ, identitas visual secara personal menjadi salah satu aspek perhatian Generasi M. Bahwa tampil cantik nan anggun sesuai mode tren terbaru sangat penting bagi asal berpijak pada prinsip-prinsip islami.
Bab empat, Shelina menjelaskan tentang keterhubungan Generasi M dari tingkat individu ke tingkat komunal. Islam mengajarkan penganutnya tentang pentingnya kebersamaan dan bersosial. Indikasi ini dicerminkan dalam ritus-ritus ibadah seperti keutaamaan shalat berjamaah, ibadah haji, zakat, tanggung jawab keluarga hingga hubungan sosial.
Meski Generasi M tampak individualis dibanding generasi sebelum mereka yang tradisionalis, hubungan mereka dengan orang-orang di sekitarnya (ibu, ayah, anak, ipar, sepupu, teman bahkan umat) sebenarnya temasuk dalam bagian identitas mereka. Persamaan identitas (muslim) mencipta kedekatan emosional yang pada akhirnya membentuk kesadaran kolektif.
Shelina mencontohkan sebuah aplikasi Umma Spot yang diciptakan untuk mewadahi persamaan emosional dan spiritual. Hanya saja, yang menjadi kekhawatiran bagi Generasi M ialah rasa bersalah kolektif yang ditujukan kepada mereka setiap adanya peristiwa terorisme. Generasi M memiliki pandangan bahwa keragaman opini tak boleh dikekang dan kekerasan (terorisme) jelas-jelas tidak diperbolehkan dalam membangun umat.
Bab kelima, keimanan menginspirasi masa depan modernitas. Generasi M selalu meyakini bahwa segala tindakan, tingkah laku dan aktivitas menjalani kehidupan merupakan sarana untuk mencapai ekstase keimanan dan spiritualitas.
Baca juga: Facebook Pro dan Ekspresi Ibu Rumah Tangga
Hal tersebut tidak hanya berlaku secara individual, proyek amal dan kerja komunitas juga menjadi objek aktualisasi keimanan mereka. Kerja komunitas membuka pikiran dan kemampuan untuk saling menghormati, dengan begitu tujuan kolektif dapat diraih secara bergandengan tangan. Hal ini juga menyadarkan setiap individu dalam komunitas untuk bertanggung jawab bersama pada lingkungan sekitarnya.
Menurut Shelina, hal yang dapat ditarik sebagai benang merah dari Generasi M ialah integrasi antara iman dan modernitas, budaya muslim baru Generasi M, kepercayaan mereka terhadap individualitas dan komunitas serta keimanan mereka yang dijadikan sebagai landasan menghadapi dunia.
Futurisme berbasis keimanan ini yang kemudian menjadikan kondisi dunia lebih baik bagi semua orang. Pasalnya, keimanan menjadi filter dan kendali Generasi M untuk mengontrol konsumerisme mereka, sehingga pada akhirnya terbentuk konsumerisme hijau atau eco-jihad.
Berkaitan dengan hal tersebut, Shelina merepresentasikan Zaufishan Iqbal, seorang Muslimah Inggris yang konsen dengan kelestarian lingkungan, mulai dari pembersihan jalan, penghijauan dan konsumsi makanan organik melalui kampanye di situs website The Eco Muslim. Iman menuntunnya untuk melestarikan lingkungan dan menghargai setiap sumber daya berasal. Baginya, beriman sama saja dengan melestarikan lingkungan, menjaga dari kerusakan dan mencegah dari kemubadziran.
Judul Buku : Generation M Generasi Muda Muslim dan Cara Mereka Membentuk Dunia
Penulis : Shelina Janmohamed
Penerbit : Bentang
Cetakan : Pertama, Maret 2017
ISBN : 978-602-291-366-5



