Ilustrasi dari Kompas.id

Dulu, sukses sering diukur dari seberapa cepat seseorang mendapat pekerjaan tetap setelah lulus. Sekarang, ukuran itu mulai bergeser. Di tengah derasnya arus digital, banyak anak muda justru memilih menciptakan jalannya sendiri. Mereka tidak menunggu lowongan kerja, tetapi menciptakan peluang dengan cara yang tak terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Itulah wajah baru ekonomi yang digerakkan oleh Generasi Z.

Generasi Z tumbuh di masa ketika internet bukan lagi barang mewah, melainkan bagian dari hidup sehari-hari. Mereka belajar, berinteraksi, dan berkreasi lewat perangkat teknologi. Dunia digital bagi mereka bukan sekadar tempat bermain, tapi ruang kerja dan berkarya. Dengan bermodal ponsel dan ide kreatif sekaligus semangat menggebu, mereka bisa memulai jalan ekonomi ala Generasi Z dengan mencari celah usaha, menjadi konten kreator, atau bahkan bekerja lintas negara tanpa harus keluar rumah.

Saya sering melihat teman-teman sebaya yang berjualan di TikTok Shop, membuat desain digital untuk klien luar negeri, atau membuka jasa ulas produk. Semua dilakukan dengan kreativitas dan kemampuan membaca tren. Di sinilah keunggulan Generasi Z: mereka cepat belajar dan tidak takut mencoba-menerobos hal baru. Dunia digital pada dasarnya memberi mereka kebebasan untuk bereksperimen tanpa batasan ruang dan waktu.

Namun, di balik semangat menempuh jalan ekonomi ala Generasi Z itu, ada tantangan besar yang perlu disadari. Tidak semua anak muda memahami cara mengelola keuangan dengan baik. Hal ini disebabkan mereka masih kurang melek secara finansial, dan godaan untuk menjadi penganut konsumerisme tanpa sadar menggedor-gedor setiap insan. 

Fitur seperti paylater atau e-wallet memang memudahkan transaksi, tetapi rupanya bisa menjadi jebakan konsumtif. Banyak yang terjebak membeli barang karena dorongan tren, bukan kebutuhan. Padahal, kemampuan mengatur uang sama pentingnya dengan kemampuan mencari uang. Literasi keuangan digital harus menjadi bagian dari gaya hidup, bukan sekadar materi kuliah ekonomi yang lekas menguap setelah kelas usai.

Lihat juga: Antara Estetika dan Identitas: Fenomena Foto TikTok di Kalangan Gen Z

Selain itu, kita tidak bisa menutup mata terhadap kesenjangan digital. Masih banyak daerah yang belum memiliki akses internet yang stabil, sementara peluang ekonomi digital sebagian besar tersentralisasi di kota-kota besar dengan fasilitas pendukung melimpah.

Ini niscaya membuat banyak anak muda di daerah tertinggal dan terbelakang sulit berkembang, meski mereka punya ide yang sebenarnya bagus dan mampu bersaing. Pemerataan akses internet dan pelatihan teknologi seharusnya menjadi prioritas agar ekonomi digital benar-benar inklusif, menjangkau seluruh wilayah.

Generasi Z telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus menunggu kesempatan datang. Dengan ide, nyali, dan kuota internet, mereka bisa membangun sesuatu dari nol

Dari sisi pendidikan, institusi pendidikan tinggi punya peran penting dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan-pergeseran ini. Pembelajaran tentang ekonomi dan bisnis sebaiknya tidak hanya fokus pada teori, tapi juga praktik di dunia digital. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk 

mencoba membuat proyek kecil, berjualan online, atau berkolaborasi dalam membuat inovasi sederhana. Dari proses itulah muncul keberanian dan pengalaman nyata yang tak bisa didapat hanya dari ruang kelas.

Baca juga: Buku, Filsafat, dan Bung Hatta

Sementara itu, dunia usaha juga dapat berperan dengan membuka peluang kerjasama dan magang digital. Banyak perusahaan kini membutuhkan tenaga muda yang paham tren media sosial dan strategi pemasaran digital. Ini bisa menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang semakin dinamis.

Pada akhirnya, ekonomi digital bukan sekadar tentang teknologi, tetapi tentang manusia yang menggunakannya. Generasi Z punya semangat untuk mandiri dan beradaptasi, sesuatu yang menjadi modal berharga bagi masa depan ekonomi Indonesia. Tantangannya bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi bagaimana menjaga nilai dan tujuan di tengah dunia yang serba cepat.

Generasi Z telah membuktikan bahwa kesuksesan tidak harus menunggu kesempatan datang. Dengan ide, nyali, dan kuota internet, mereka bisa membangun sesuatu dari nol. Dunia digital memang penuh risiko, liku-liku, tapi juga penuh peluang bagi mereka yang berani mencoba. 

Inilah saatnya kita mendukung generasi muda agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta perubahan ekonomi yang membawa manfaat bagi banyak orang. Semoga sektor informal ini tetap aman, menjadi ruang belajar untuk tmbuh dan mendatangkan profit meski persaingan tak terhindarkan. 

Bagikan
Pengurus UKM LPM Dinamika UIN Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here