
Sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid menjadi tempat menyemai gagasan literasi keagamaan. Beberapa kajian yang sudah digelar sering melihat masjid dari sisi historis, budaya, seni, dan arsitektur. Sedikit yang membedah fungsi masjid dari sisi pendidikan-pengajaran, manajemen, dan ekonomi kemasjidan.
Penempatan masjid sebagai ruang pertemuan-perjumpaan ini menjadi semakin penting dan punya peran sentral. Fungsi masjid sendiri pun bukan hanya ditujukan untuk sejumlah jama’ah masjid, tetapi juga diarahkan kepada lingkungan sekitar masjid bahkan umat agama lain.
Dengan posisi masjid yang amat penting, setidak-tidaknya perlu ada pemantauan dan koordinasi yang baik. Bila saja pengawasan pemahaman kajian keagamaan tidak berjalan, sangat mungkin masjid menjadi tempat yang subur dalam menabur bibit-bibit radikalisme dan intoleransi—yang ujung-ujungnya mengatasnamakan agama dan politik sektarianisme.
Selaku penyuluh agama Islam, yang bertungkus lumus dalam masjid di beberapa daerah Provinsi Jawa Barat khususnya pasca-Orde Baru, saya mengamati kurangnya pengawasan dari pengurus masjid berdampak munculnya ide-ide dan pandangan radikalisme dan intoleransi, serta banyaknya para khatib maupun mubalig yang menyampaikan pandangan keagamaan yang cenderung intoleran secara konvensional dan normatif.
Mereka lazim menyampaikan pesan-pesan keagamaan lewat khutbah jumat. Mereka menyisipkan, misalnya, penolakan atas Pancasila sebagai ideologi dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang telah susah payah dibangun sesuai konsepsi para pendiri bangsa (founding father).
Nasihat-nasihat seputar akidah, ibadah, fiqh, dan adab kemudian hanya jadi konsep belaka, demi mendakwahkan pesan-pesan keagamaan yang sudah disisipi niat tertentu.
Sejak Mula
Perkembangan masjid sejak awal tak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga kegiatan pendidikan-pengajaran, sosial, politik, dan ekonomi yang bersifat komersial. Saat hijrah di Yatsrib (Madinah), Nabi Muhammad mendirikan masjid dan menjadikannya sebagai pusat kegiatan dalam dakwah, guna membangun peradaban dan mengayomi umat.
Di dalam masjid itu, orang-orang yang baru masuk Islam mendapat pelajaran-pelajaran dasar mengenai agama yang baru mereka peluk. Jejak historis yang ditinggalkan Nabi Muhammad di Madinah menunjukkan perkembangan awal masjid sebagai sarana dakwah sekaligus proses transfer pengetahuan. Masjid menjadi tempat diseminasi ilmu pengetahuan.
Baca juga: Kontekstualisasi Tafsir Al-Qur’an
Dari masa ke masa, masjid kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan (Islam), yang selanjutnya dikenal dengan masjid jami’, lalu muncul institusi pendidikan yang disebut “al-jami’ah”. Dengan demikian, dapat dikata bahwa masjid menjadi cikal bakal berdirinya lembaga pendidikan tinggi.
Masjid tidak sekadar berfungsi sebagai pusat kegiatan ibadah dan dakwah, tapi juga menopang sarana-sarana lain. Seperti madrasah atau sekolah, perpustakaan, pelayanan kesehatan seperti klinik, pelayanan publik seperti penyelenggaraan pernikahan, dan pusat pertukaran barang dan jasa semacam pasar; toko, bank, kantor, gudang, dll. Masjid tidak hanya menjadi sumber peningkatan keilmuan, keimanan dan ketakwaan, tapi juga peningkatan ekonomi umat. Masjid pun menjadi ruang publik yang cair.
Kegiatan-kegiatan semacam itu boleh disebut sebagai upaya memakmurkan masjid, sehingga masjid benar-benar menjadi satu di antara pusat terpenting untuk mengembalikan peradaban Islam.
Masjid benar-benar menjadi satu di antara pusat terpenting untuk mengembalikan peradaban Islam.
Di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, terdapat Masjid PUSDAI Jawa Barat. Masjid yang terletak di Jl. Supratman ini menjadi contoh nyata keberadaan masjid yang mampu dikelola dengan baik. Di kompleks masjid ini terdapat sarana prasarana pendidikan keagamaan, lembaga keuangan syariah, dan aula sebagai tempat melangsungkan penikahan atau pertemuan akbar.
Hal senada dengan Masjid Al jabar. Konsep masjid ini rupanya juga merangkul wisatawan rohani dengan mengunjungi Museum masjid nusantara. Sebuah masjid yang terapung di pelataran wilayah Kec. Gedebage, Kota bandung yang termasyhur dengan masjid dikelilingi air embung. Tata arsitektural masjid hasil karya Gubernur Ridwan Kamil ini sengaja dibangun untuk menangkal banjir Bandung Timur.
Lantas, bagaimana ya dengan kondisi masjid-masjid lain di Indonesia? Tentu memakmurkan masjid-masjid di seantero Indonesia menjadi keharusan bagi umat Islam.
Baca juga: Peluncuran Situs Nisa.co.id: Memberdayakan Perempuan, Menyemai Inspirasi
Kehadiran sekian masjid perlu dioptimalkan peran dan fungsinya dalam membentuk akhlak dan karakter umat. Sebagian besar, masjid-masjid di Indonesia dikelola jama’ah secara otonom.
Implikasi dari otonomi pengelolaan masjid semacam ini adalah semakin leluasanya para pengelola, baik takmir, imam, maupun khatib, untuk memakmurkan masjid sesuai taraf pemahaman agama mereka.
Memapankan Literasi
Wajar saja bila beberapa masjid dianggap cenderung radikal dan intoleran, karena pengelolanya memang memiliki pandangan keagamaan semacam itu. Jadi, wacana keislaman di masjid tidak jauh beda dengan pandangan para pengelolanya. Hal ini akan berpengaruh pada perkembangan literasi keagamaan di masjid.
Masjid jelas telah memainkan peran penting dalam membentuk, mengembangkan, dan memapankan literasi keagamaan di dalam komunitas masyarakat. Studi yang dilakukan Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah ini menyebut kajian tentang masjid belakangan dikaitkan dengan sumbangsih besar masjid dalam meningkatkan pendidikan dan pemahaman literasi keagamaan di kalangan kawula muda.
Hasil studi tersebut bisa menjadi pemantik dan langkah awal memetakan langkah untuk memakmurkan masjid di masa kini dan nanti. Kita tentu menaruh harapan besar agar para pengelola (baik takmir, imam, maupun khatib) masjid, utamanya di Indonesia, dapat meningkatkan perannya dalam menyerukan Islam rahmatan lil-‘alamin.
Sampai literasi keagamaan yang berkembang di lingkungan masjid tidak mengarah pada seruan kebencian, yang menyulut perpecahan dan permusuhan antarumat Islam dan antarumat beragama. Kita sama-sama tidak ingin menuai konflik tentunya.



