
UIN Raden Mas Said Surakarta baru saja mengadakan Seminar Hari Persaudaraan Manusia Internasional yang mengusung tema “Dokumen Abu Dhabi untuk Perdamaian Dunia dan Koeksistensi” Seminar tersebut memiliki ikhtiar untuk menggemakan esensi Dokumen Abu Dhabi.
Seminar dihelat di Gd. Graha UIN Raden Mas Said Surakarta, tanggal 2 Februari 2023. Acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai lewat pukul 12.00 WIB. Seminar ini ditujukan untuk memperingati Hari Persaudaraan Manusia Internasional yang jatuh pada tanggal 4 Februari.
Seminar ini diikuti oleh para mahasiswa dan berbagai elemen sosial-keagamaan di Solo Raya. Sekiranya total ada 200 orang yang datang menghadiri Seminar ini.
Bagi yang tidak bisa tatap muka, tenang saja, tidak usah khawatir, seminar ini juga ditayangkan secara live dan bisa ditonton di kanal resmi Youtube uinrmsaid dan akun Instagram @uin_rmsaid
Sambutan yang perdana disampaikan oleh Prof. Mudhofir Abdullah. Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta menyebut bahwa kedatangan semua orang di dalam Gd. Graha UIN Raden Mas Said Surakarta ini, adalah bukti komitmen menjunjung nilai-nilai persaudaraan umat manusia secara lebih luas, dan menggaungkan esensi Dokumen Abu Dhabi secara lebih khusus.
Sambutan yang kedua disampaikan oleh Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr. SH. Selaku Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI. Romo Agustinus menyebut bahwa semua agama sejatinya mengajarkan kebaikan.
“Agama tidak membuat kita tenggelam, tetapi terhubung satu sama lain,” terang Romo Agustinus. Rasa persaudaraan kita yang kuat, niscaya mencegah intoleransi dan membendung perpecahan.
Agama tidak membuat kita tenggelam, tetapi terhubung satu sama lain
Kemudian, sambutan yang ketiga diisi oleh Dr. H. Mukhlis Hanafi, M.A. selaku Direktur Eksekutif Majelis Hukama Muslimin Indonesia.
Dr. H. Mukhlis Hanafi, MA. mengatakan bahwa “seminar ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengenang peristiwa 4 Februari 4 tahun yang lalu.”
Peristiwa yang coba dikenang tersebut adalah Dokumen Persaudaraan. Dokumen yang ditandatangani oleh Ahmad el-Tayeb selaku Imam Agung Al Azhar dan Paus Fransiskus dari Gereja Katholik ini, menurut Mukhlis Hanafi, merupakan pernyataan dan ungkapan atas kondisi terkini, setelah berulangkali dialog ihwal krisis kemanusiaan.
Mukhlis Hanafi mengutarakan bahwa perbedaan adalah keniscayaan, sehingga tidak dapat dinafikan. “Tuhan menciptakan manusia berwarna-warni. Tuhan memang menciptakan kita berbeda-beda,” tutur Mukhlis Hanafi.
Perbedaan semestinya dipupuk oleh rasa belas kasih, dibina dengan memperbanyak ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan terjadinya dialog antarumat beragama maupun lintas iman.
Perbedaan semestinya dipupuk oleh rasa belas kasih, dibina dengan memperbanyak ruang-ruang perjumpaan.
Baca juga: Teologi Berbasis Kemanusiaan
Seusai sambutan-sambutan, ada penampilan tari topeng ireng. Tari tradisional ini merupakan persembahan dari UKM Sentra (Seni Tari Tradisional) UIN Raden Mas Said Surakarta.
Sebuah tari tradisional yang energik dan percaya diri. Dalam riwayat lain, tari topeng ireng adalah peninggalan dari salah satu wali untuk mendakwahkan agama Islam di Nusantara. Tari topeng ireng ini pun juga dilakukan untuk menyongsong penempatan kubah saat mendirikan masjid.
Selanjutnya adalah collaboration agreement. Ada pula penandatanganan Piagam Persaudaraan Manusia. Piagam Persaudaraan Manusia ini ikut ditandatangani oleh sekian tokoh agama yang mewakili umat masing-masing.
Setelah penandatangan Piagam Persaudaraan Manusia, dilanjut pernyataan sikap dengan menghadap ke arah panggung, dipimpin oleh Mudhofir Abdullah lalu ditirukan oleh para tamu undangan dan peserta seminar.
Sekian narasumber dari beragam latar belakang mengisi sesi pemaparan Seminar Hari Persaudaraan Manusia Internasional ini.

Mulai Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid (Universitas Al Azhar-Mesir), Romo Agustinus Heri Wibowo, Pr. SH. (Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI) Romo Dr. Aloys Budi Purnomo, Pr. (Unika Semarang) KH Taslim Sahlan (Ketua FKUB Jawa Tengah) Summartono Hadinoto (Penerima Award Religion Freedom Bussines Foundation UNAOCC-PBB) Pdt. Izak Lattu, Ph.D (UKSW Salatiga) Bhikku Dhammamito (Wakil Ketua Bhikku Pembina Umat Buddha DIY) dan Ida Bagus Komang Suarnawa, M.Pd.H (Ketua PDHI Surakarta)
Baca juga: Mencegah KDRT melalui Tafsir Al-Qur'an
Sementara, Dr. Zainul Abbas menjadi moderator yang memandu sesi pemaparan masing-masing narasumber. Paparan narasumber pertama diisi oleh Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid dari Universitas Al Azhar-Mesir. Pemaparan Syekh Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid, yang secara penuh menggunakan bahasa Arab, diintisarikan oleh Mukhlis Hanafi sebagai berikut.
“Seminar ini bagian dari syiar agama. Nilai-nilai sosial keagamaan salah satunya adalah menjaga persaudaraan. Ukhuwah bukan hanya karena persoalan biologis semata-mata, melainkan juga seiman-sekemanusiaan.” Sebab, Islam bukan hanya kumpulan teks-teks keagamaan, tetapi juga bisa diimplementasikan ke dalam kehidupan.



