Ada sekian nama kerajaan Islam di masa lampau yang berdiri kukuh dengan berbagai torehan positifnya. Sebut saja Kerajaan Langkat. Kerajaan ini didirikan oleh Raja Kahar di pertengahan abad ke-18.

Saya rasa, nama kerajaan ini cukup akrab dikenal dalam berbagai khazanah literatur kesejarahan Islam. Pendirian Kerajaan Langkat sebenarnya baru teralisasi di usia senja Raja Kahar, yakni kisaran 77 tahun. Meski begitu, kontribusinya pada pemajuan Islam di sepetak negeri ini tidak bisa dinegasikan begitu saja.

Hal ini terbukti dengan keterlibatannya pada sekian perebutan kekuasaan dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya, menentang kolonialisme dengan berbagai cara, serta turut mengoptimalkan berbagai bidang demi eksistensi sebuah kerajaan.

Sisi Pendidikan Kerajaan Langkat

Saya akan membahas bagaimana pendidikan di Kerajaan Langkat. Dari sisi pendidikan misalnya, Kerajaan Langkat menginisiasi sebuah lembaga yang emoh tunduk pada ketentuan politik etis kolonial. Maka dari itu, lembaga pendidikan yang dibuat, baik kurikulum sampai ke nama lembaganya memilih berafiliasi pada agama Islam.

Muaz Tanjung dalam artikel Pertumbuhan Lembaga Pendidikan Islam di Kerajaan Langkat pada Tahun 1912-1942, menggarisbawahi salah satu ciri penting bagaimana pendidikan-pengajaran di Kerajaan Langkat. Kutipan di artikel: “Lembaga pendidikan Islam yang berdiri di Langkat tidak menggunakan nama lembaga pendidikan yang sudah dikenal di daerah lain seperti meunasah, rangkang, dayah, pesantren, atau surau.”

Baca juga: Pendidikan, Buku, dan Ilmuwan

Kita bisa menduga pemilihan nama ini juga sebagai upaya membentuk identitas yang khas dari masyarakat Islam di Kerajaan Langkat pada masa silam, selain juga untuk penegasan bahwa mereka berada di bawah payung yang sama. Dengan tegas, mereka menolak mengadopsi nama-nama institusi yang telah populer di berbagai daerah.

Beberapa Lembaga Pendidikan Kerajaan Langkat

Seperti Madrasah Maslurah. Madrasah ini didirikan oleh organisasi Jam’iyah Mahmudiyah li Thalabil Khairiyah pada 1 Desember 1912 di Tanjung Pura. Organisasi tersebut langsung berada di bawah kendali Sultan Langkat, Sultan Abdul Azis Abdul Jalil Rahmatsyah.

Madrasah ini memayungi sekian jenjang lembaga pendidikan lainnya; dari tingkat Tajhiziyah dengan masa belajar 4 tahun, naik ke Ibtidaiyah selama 4 tahun, lantas ke Tsanawiyah selama 4 tahun, dan terakhir Qismul ‘Ali selama 2 tahun.

Selama masa pendidikan tersebut, baik pelajar laki-laki maupun perempuan ditempatkan pada ruang terpisah. Untuk pelajar laki-laki ada di madrasah yang lokasinya di sebelah tenggara Masjid Raya Azizi, sedang pelajar perempuan berada di bekas istana sultan dengan nama Madrasah Maslurah lil Banat.

Selanjutnya ada Madrasah Ibtidaiyah Arabiyah (Arabiyah School) yang berdiri pada 1921. Kendati begitu, baru tahun 1923 di bawah pimpinan Haji Muhammad Nur Ismail, Madrasah Ibtidaiyah Arabiyah ini bisa berkembang dengan cukup pesat.

Baca juga: Mbah Sayidiman: Teman Seperjuangan Pangeran Diponegoro

Adapun muatan pendidikan yang ditekankan menyasar pada ilmu Al-Qur’an dan sejarah peradaban Islam. Dua keilmuan tersebut dinilai penting oleh jajaran guru di madrasah ini lantaran masih jarang didalami para pembelajar yang datang ke Kerajaan Langkat.

Selain itu, jajaran guru di Madrasah Ibtidaiyah Arabiyah juga terbilang produktif menghasilkan naskah-naskah literer. Hal ini dibuktikan dengan sekian buku yang diterbitkan di bawah lembaga pendidikan itu, umpamanya Tarich Tamadun Islam yang ditulis H. Abdul Halim Hasan (1930), Tarich Siti Chadidjah yang ditulis Abdul Rahim Haitami (1930), Tarich Peperangan Tripoli yang disusun oleh H. Abdul Halim Hasan (1935), dan masih banyak lagi.

Buku-buku masa silam tersebut, yang kini hendak menginjak usia seabad, barangkali sudah tidak terjamah, terbaca, pun tidak terawat. Padahal buku tersebut sejatinya bisa menjadi petunjuk sekaligus bukti keberadaan Madrasah Ibtidaiyah Arabiyah dan pemajuan pengetahuan di Kerajaan Langkat pada masanya.

Ada juga Madrasah Tamimiyah yang didirikan oleh KH. Abdul Karim Tamim. Lokasi madrasah ini, dulunya ada di pekarangan Masjid Rembung dengan santri dari berbagai daerah di sekitar Langkat. Pada 1938, tercatat tidak kurang dari 200-an pelajar yang datang ke Madrasah Tamimiyah.

Madrasah ini bisa dikatakan sebagai madrasah lanjutan. Karena di dalamnya hanya menampung pelajar setingkat aliyah dan dipersiapkan sebagai pengajar di berbagai lembaga pendidikan.

Hanya saja bangunan Madrasah Tamimiyah ini sudah tidak bisa ditemukan lagi. Bangunannya sudah hilang dan hanya menyisakan Masjid dan makam KH. Abdul Karim di Kota Binjai.

Beberapa lembaga pendidikan di Kerajaan Langkat ini memang sudah tidak terdengar lagi suaranya, lebih-lebih di kancah nasional. Namun, catatan sejarah dan kontribusinya pada pelestarian rantai pengetahuan Islam di negeri ini, saya rasa tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here