
Pergulatan dan dialektika Islam di panggung sejarah, memberikan gambaran luas bahwa Islam mempunyai eksistensi tinggi dalam transmisi sosial, politik, budaya, dan pengetahuan. Hal ini menyangkut dengan hadirnya sumber-sumber yang diwariskan dan mempunyai ekspektasi tinggi dalam mengekspresikan nilai-nilai Islam dalam bentuk yang beragam.
Kehadiran sumber-sumber Islam klasik yang dapat kita nikmati hari ini, merupakan hasil representasi tokoh dan ulama terdahulu dalam menuangkan gagasan, ide, dan pikiran mereka dalam memandang sebuah keilmuan.
Namun dalam perjalanannya, sumber-sumber klasik yang diwariskan oleh generasi masa lalu tampaknya diterima apa adanya tanpa analisis ulang. Hal itu agak jadi sebuah penghormatan, tetapi sebagai bagian dari tradisi keilmuan, mesti ada analisis ulang untuk mengkonfirmasi dan merekonstruksi pemikiran yang secara akademis dapat menunjang ilmu pengetahuan masa kini dan nanti.
Sejalan dengan adanya persoalan ini, Mun’im Sirry mencoba menganalisa ulang dengan sebuah metode dan pendekatan baru yang relevan dan sesuai etika akademis. Beberapa persoalan yang dianggap final rupanya menyimpan banyak hal yang perlu ditinjau kembali. Tentu saja, hal ini bukan semata membatalkan atau mengobrak-abrik pandangan lama, tetapi mengambil saripati dan perspektif lain demi diseminasi dan pengayaan intelektual.
Sampai di titik ini, saya tidak mengadopsi pemikiran Mun’im Sirry, meski saya pengagum pemikiran beliau. Ada beberapa bagian yang saya tidak setuju dari pemikiran Mun’im Sirry, khususnya seputar tema-tema yang mungkin kontroversial. Dari sederet karya beliau, kiranya buku ini adalah buku yang kelima yang saya baca dengan cukup cermat.
Baca juga: Potret Pendidikan Moderasi di Sekolah
Bertolak dari tulisannya di media sosial, Mun’im Sirry dalam buku ini mencoba melengkapi dan membahas secara luas dengan merujuk ke berbagai sumber dan pendapat beberapa ulama baik, dari kalangan tradisionalis maupun revisionis.
Seperti pada karya-karya lainnya, Mun’im Sirry juga mendiskusikan persoalan kajian al-Qur’an dengan literatur historis dan kepekaan epistemologis. Dengan bahasa lugasnya, Mun’im Sirry menyuguhkan informasi dari beragam sumber literer dan pengetahuan yang luas.
Persoalan yang selama ini kita anggap benar, tampaknya masih menjadi diskusi hangat di kalangan para sarjana Muslim dan Barat yang sampai hari ini masih terus berjalan. Hal ini pula yang menjadi sorotan. Sebut saja persoalan klasik seperti persinggungan al-Qur’an kalam Allah atau kalam Nabi, pernikahan beda agama, tafsir dan Alkitab.
Secara tajam, Mun’im Sirry memaparkan argumennya dengan analisis dan metodologis yang rasional. Hal ini akan membawa kita kepada jalan analisa baru dalam melihat dan memandang sebuah kajian/literatur dalam diskursus akademis.
Baca juga: Seikat Risalah dari Ceramah
Adanya persoalan, diskursus, atau wacana, akan memberikan ruang baru yang merupakan bagian dari tradisi intelektual yang harus dilestarikan. Lebih dari itu, persoalan adanya wacana tersebut menjadi menarik atau hanya bersifat repetitif belaka adalah hal lain yang pasti akan berkembang.
Dengan analisis dan metode pembacaan yang baru, diskursus lama akan mampu menyuguhkan perspektif-perspektif baru yang bisa memperkaya analisa berpikir para pembaca. Tapi sebaliknya, dengan metode pembacaan lama, diskursus baru pun akan tampak lapuk dan kehilangan makna kebaruannya.
Dengan pendekatan baru, persoalan-persoalan klasik akan tetap bisa memberi kita makna-makna baru yang relevan dengan problematika yang tengah kita hadapi dewasa ini. Sebaliknya dengan pendekatan lama, persoalan-persoalan baru pun kehilangan relevansi dan aktualisasinya untuk menjawab problem aktual kita hari ini.
Judul Buku : Think Outside The Box Membebaskan Agama dari Penjara Konservatisme
Penulis : Mun’im Sirry
Penerbit : SUKA PRESS
Cetakan : Pertama, Maret 2024
Halaman : xxii+466 Halaman
ISBN: 978-623-7816-86-7



