
Akhir-akhir ini, kita terlihat sangat sibuk sekali. Bukan karena solidaritas yang tumbuh, tetapi karena pertengkaran yang terus dipelihara. Kita sibuk berbicara, membantah, mengoreksi, mencari validasi hingga merasa paling benar sendiri.
Media sosial dipenuhi oleh riuh perdebatan perihal moral, agama, nasionalisme, dan identitas. Semua berlomba-lomba menjadi pembela kebenaran. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu hal sederhana yang justru sering terlupakan: menjadi manusia. Sibuk benar sendiri dan lupa bertanya, siapa yang terluka atau kena imbas dari semua keributan ini?
Judul esai ini bukan tuduhan, melainkan cermin. Kita sibuk benar dengan keyakinan, tafsir, dan klaim moral, hingga sering lupa bahwa inti dari semua nilai itu seharusnya bermuara pada kemanusiaan. Ketika kebenaran membuat kita gelap mata, orang lain kehilangan rasa aman, hak hidup, dan martabatnya, barangkali yang perlu kita pertanyakan bukan siapa yang salah, tetapi ke mana perginya empati kita.
Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia tidak kekurangan contoh kasus-kasus kemanusiaan seperti : intoleransi, persekusi, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Ada warga yang diusir karena keyakinannya, ada rumah ibadah yang ditolak, ada kelompok yang hak-hak dasarnya diabaikan. Selalu saja ada kabar buruk menyangkut kemanusiaan.
Ironisnya, semua itu sering terjadi sambil dibungkus dengan dalih moral, agama, dan kebenaran. Seolah-olah membela prinsip lebih penting daripada menjaga martabat manusia. Inilah wajah krisis kemanusiaan yang sesungguhnya. Ketika penderitaan dianggap wajar dan ketidakadilan dibenarkan atas nama mayoritas.
K. H. Abdurrahman Wahid – atau biasa disebut Gus Dur – pernah mengajarkan bahwa kemanusiaan harus menjadi titik berangkat dan titik pulang dari segala nilai. Agama seharusnya menjadi kekuatan pembebasan, bukan alat penghakiman. Baginya, agama tidak boleh berhenti pada simbol dan formalitas semata, tetapi harus hadir sebagai pembela martabat manusia.
Baca juga: Meneladani Kanjeng Nabi: Agama sebagai Pembebas, Bukan sekedar Penenang
Ketika agama justru melahirkan ketakutan dan eksklusi, maka yang bermasalah bukan manusianya, melainkan cara beragamanya. Namun yang sering kita saksikan hari ini justru berbanding terbalik. Agama direduksi menjadi identitas yang dipertahankan mati-matian, bahkan jika harus mengorbankan manusia lain-nya. Kesalehan tampak di ruang publik, tetapi rasa kemanusiaan hilang di dalam praktik.
Gus Dur menolak keras politisasi agama dan penggunaan moral sebagai alat penindasan. Ia berulang kali berdiri menjadi garda terdepan membela kelompok minoritas. Bukan karena ingin terlihat berbeda, tetapi karena meyakini bahwa ukuran keadilan sebuah masyarakat terletak pada bagaimana ia memperlakukan yang paling lemah. Dalam pandangan Gus Dur, membela minoritas bukan tindakan melawan mayoritas, melainkan bentuk kesetiaan pada nilai humanisme universal.
Krisis kemanusiaan tidak hanya lahir dari masyarakat, tetapi juga dari negara yang sering hadir setengah hati. Ketika kasus intoleransi terjadi, negara sibuk mengatur stabilitas, menjaga citra, dan meredam konflik secara administratif dengan dalih atas nama keamanan dan harmoni. Namun, perlindungan nyata terhadap korban kerap terlambat atau bahkan absen. Korban diminta mengalah sedangkan pelaku sering dibiarkan.
Bagi Gus Dur, negara yang beradab adalah negara yang berpihak pada yang lemah, bukan malah mencari pembelaan atas nama ketertiban. Ketika negara memilih diam atau netral dihadapan ketidakadilan, sebenarnya ia sedang memihak penindasan. Di sinilah krisis kemanusiaan berubah dari masalah sosial menjadi kegagalan moral kolektif dan krisis kemanusiaan berubah menjadi krisis legitimasi sosial.
Di era digital, kesibukan kita semakin menjadi-jadi. Opini diproduksi setiap detik, kemarahan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, dan empati sering kalah oleh algoritma. Kita bereaksi cepat, tetapi jarang merenung. Kita mengomentari penderitaan orang lain tanpa benar-benar memahami konteksnya.
Baca juga: Dakwah Digital dan Tantangan Literasi Keagamaan
Gus Dur dengan gaya santai, justru mengajarkan sebaliknya, beliau mengajarkan untuk selalu berpikir jernih, bersikap ringan, tetapi berprinsip kuat. Beliau tidak sibuk tampil paling benar, tetapi konsisten membela manusia, terutama mereka yang tidak punya suar. Dalam dunia yang semakin bising, sikap ini terasa langka.
Tulisan ini pada akhirnya bukan sekadar kritik sosial, melainkan ajakan reflektif. Mungkin yang paling kita butuhkan hari ini bukan slogan moral baru atau regulasi tambahan, tetapi keberanian untuk menahan diri sebelum menghakimi, mau mendengar sebelum menyerang, dan berpihak pada yang lemah meski tidak populer.
Di tengah krisis kemanusiaan yang terus berulang, mungkin yang paling kita butuhkan bukan debat baru, tetapi keberanian untuk peduli. Menjadi manusia berarti mengakui bahwa kita bisa salah, bahwa orang lain berhak hidup aman meski berbeda, dan bahwa membela martabat manusia tidak pernah bertentangan dengan nilai agama atau kebangsaan. Justru di situlah nilai-nilai itu menemukan maknanya.
Selama kita sibuk benar sendiri dan menjadikan kebenaran sebagai senjata, bukan sebagai jalan menuju keadilan, krisis kemanusiaan akan terus berulang. Gus dur telah memberi teladan bahwa membela manusia tidak akan pernah salah, bahkan ketika seluruh dunia sedang sibuk merasa paling benar dan saling menyalahkan. pa menjadi manusia. Kita sibuk mengurus siapa yang paling benar daripada mencari keadilan.






