Idealisme Mahasiswa
Ilustrasi dari LPM Arrisalah

Apakah saat ini kamu masih idealis?

Idealismeku hilang sejak aku menginjak semester tiga.

Gelak tawa penuh persetujuan yang terlontar dari teman penulis. Percakapan itu membuat aku bertanya-tanya benarkah idealisme mahasiswa hanya bertahan di semester-semester awal kuliah? Ataukah yang sebenarnya berubah bukan idealismenya, melainkan caranya memandang dunia.

Ada yang mengatakan mahasiswa baru memang masih penuh dengan gelora idealisme, bahkan ada yang menganggapnya sok idealis. Apakah idealisme itu sudah benar-benar memudar dari diri mahasiswa? Sebelum lebih jauh mari kita menilik sedikit perbedaan konsep idealisme dari segi bahasa dan filsafat yang terkandung di dalamnya.

Idealisme pertama kali diperkenalkan oleh Plato, sang bapak idealisme, pada abad ke-4, lalu kemudian dikembangkan oleh beberapa filsuf. Satu di antaranya adalah Immanuel Kant. Kant melihat idealisme sebagai struktur pemikiran seseorang yang membentuk cara orang tersebut melihat dunia. (Gumilar et al., 2024)

Sedangkan secara bahasa, berdasarkan KBBI idealisme adalah cita-cita, pikiran, atau standar kesempurnaan yang dimiliki seseorang sebagai panduan hidupnya. Idealisme yang kita bicarakan saat ini adalah cara berpikir dan standar hidup sempurna pada mahasiswa sehingga mereka dikatakan mahasiswa idealis.

Idealisme dan Realita 

Fenomena memudarnya idealisme seiring bertambah semester terasa cukup akrab dirasakan kalangan mahasiswa, termasuk percakapan penulis dan seorang kawan di awal tulisan ini.

Beban akademik maupun sosial mahasiswa memang cenderung semakin bertambah seiring bertambahnya  semester. Materi kuliah menjadi semakin kompleks sementara berbagai kewajiban lain secara bertahap berdatangan; magang, KKN, skripsi dst. Ditambah kegiatan lain di samping menjadi mahasiswa seperti pekerjaan lepas atau tetap, keluarga, kegiatan organisasi, juga turut menambah deretan kewajiban yang mesti dipanggul mahasiswa.

Namun, pudarnya idealisme mahasiswa bisa saja berasal dari idealisme yang dipegang di awal menjadi semakin banyak berkompromi dengan kenyataan. Kenyataan bahwa seseorang tidak bisa menjadi sempurna seutuhnya atau memiliki tenaga dan pikiran tidak terbatas sehingga dapat memenuhi semua tugas dan kewajibannya baik dalam perkuliahan, keluarga, ataupun kegiatan lainnya. 

Baca juga: Membuka (Jalan) Kesetaraan

Standar kesempurnaan yang dahulu menjadi kiblat dan terasa kokoh, perlahan teralihkan oleh hal-hal praktis yang lebih memuaskan dan instan. Misalnya, mahasiswa yang dahulu bertekad membaca semua bahan bacaan sebelum kuliah, pada akhirnya harus puas dengan membaca ringkasan materi ketika tugas mulai menumpuk. Mereka yang pada mulanya pengin aktif dalam berbagai organisasi kampus, lamat-lamat mundur dari sebagian kegiatan karena harus membagi waktu dengan tugas kuliah, pekerjaan sampingan, atau tanggung jawab keluarga.

Selain itu, tekanan sosial dan lingkungan kampus juga mempengaruhi cara mahasiswa memandang idealisme. Ketika banyak teman memilih jalan yang lebih praktis atau instan, mahasiswa yang ingin mempertahankan idealisme sering merasa terisolasi. Hal ini kadang membuat mereka menyesuaikan diri, bukan karena kehilangan nilai, tetapi untuk tetap bisa berinteraksi dan bertahan di lingkungan sosialnya.

Siasat Tak Terhindarkan

Barangkali berbagai beban atau pergeseran standar kesempurnaan tidak bisa serta merta menghapus idealisme seseorang. Mahasiswa yang tetap memegang idealismenya tentu masih banyak, hanya saja sering kali tidak begitu terlihat.

Bertambahnya tanggung jawab membuat mereka harus menyeimbangkan antara nilai-nilai yang dipegang teguh dengan berbagai tuntutan kehidupan akademik & pribadi. Dalam kondisi seperti ini, idealisme tidak sepenuhnya hilang, melainkan berkelit kelindan bersama kompromi yang tak terhindarkan.

Baca juga: Mengetuk Pintu Depan, Menjelang Perjamuan

Kompromi tersebut juga berkaitan dengan kenyataan bahwa realitas tidak selalu berjalan sesuai dengan standar yang kita harapkan. Di sinilah muncul ketegangan antara idealisme dan realitas—antara standar kesempurnaan yang dicita-citakan dengan hasil nyata.

Mahasiswa yang dahulu ingin menjalani perkuliahan dengan sempurna, aktif dalam organisasi, membaca banyak diktat, serta memperoleh nilai terbaik, pada akhirnya harus memilih prioritas ketika waktu dan tenaga tidak lagi cukup. 

Representasi paling nyata dari fenomena ini dapat ditemukan pada mahasiswa yang ingin aktif menulis di berbagai media kampus. Mereka mungkin awalnya menargetkan menulis setiap minggu, membaca banyak referensi, dan menulis artikel-artikel panjang. Namun, ketika tugas kuliah dan persiapan magang menumpuk, mereka belajar menyesuaikan target: menulis satu artikel berkualitas setiap bulan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa idealismenya sesungguhnya masih ada, namun realisasinya bergeser.

Belajar dari Ketidaksesuaian

Pada akhirnya, memiliki standar atau cita-cita bukanlah sebuah kesalahan. Justru melalui ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, manusia belajar melakukan dialektika. Ketika seseorang menyadari bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai rencana, di situlah muncul proses pendewasaan dalam cara berpikir dan memandang dunia.

Ketika ketidaksesuaian itu terjadi, seseorang perlu melalui beberapa proses penting: menerima kenyataan yang ada, melakukan introspeksi terhadap diri sendiri, mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut, sampai berusaha memperbaiki ayun langkah ke depan. Dengan cara inilah, niscaya idealisme tak benar-benar lenyap, melainkan bertransformasi menjadi sikap yang lebih matang dalam menghadapi realitas kehidupan.

Yang kerap disebut sebagai pudarnya idealisme mahasiswa sering bukanlah hilangnya nilai-nilai yang diyakini, melainkan perubahan cara mempertahankannya di tengah realitas nan kian kompleks, tanpa sepenuhnya melepas nilai-nilai dan identitas.

Bagikan
Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta, Meminati Kajian Sastra

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here