Ilustrasi dari merdeka.com

Dewasa ini pakaian telah menjadi sebuah objek tersendiri dalam menyesuaikan arus modernisasi. Guna memperkuat identitas, seseorang perlu meningkatan identitas. Sebuah masyarakat yang multikultural mempunyai sebidang kebebasan dalam menyatakan bentuk, apalagi yang berkaitan dengan pakaian. Dalam politik memori, pakaian pun merupakan sebuah culture dan simbol dari setiap orang, mempunyai beberapa aspek dan sederet dampak yang ada tentunya. 

Pada ranah sosial, identitas merupakan salah satu aspek penting. Hal ini bertujuan untuk membentuk cara individu maupun kelompok memposisikan diri di tengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangan masyarakat modern, pakaian semakin punya peran penting dalam membangun dan menegaskan identitas kolektif.

Berbagai kelompok masyarakat menggunakan simbol-simbol dalam busana untuk menunjukan eksistensi dan karakteristik kelompok mereka. Fenomena ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai politik identitas, seperti, agama, etnis, budaya, dan ideologi sebagai dasar dalam membangun solidaritas bersama.

Pakaian sebagai simbol identitas sering muncul dalam berbagai ruang publik, baik dalam kegiatan sosial-budaya, maupun politik. Misalnya, penggunaan busana religius, pakaian adat dan atribut tertentu yang menjadi penanda kuatnya identitas kelompok sekaligus membedakannya dari kelompok lain. Pada konteks tertentu, simbol-simbol pakaian bahkan dapat menjadi alat mobilisasi sosial-politik yang digunakan untuk menggaungkan pesan, nilai, serta aspirasi kelompok tertentu.

Di Indonesia, dengan masyarakat yang multikultural, keberagaman identitas seringkali diekspresikan melalui berbagai corak busana. Hal ini menunjukkan bahwasanya pakaian tidak hanya perihal estetika, tetapi juga memiliki dimensi sosial-politik.

Baca juga: ‘Nama Tua’ dalam Masyarakat Jawa Kiwari

Oleh karena itu, kajian mengenai pakaian dan politik identitas menjadi penting untuk memahami bagaimana simbol-simbol visual digunakan demi membangun, mempertahankan, dan mengartikulasikan identitas kelompok.

Dengan demikian, kajian ini dapat memberi pemahaman yang lebih tentang bagaimana praktik berpakaian menjadi bagian fundamental dari dinamika sosial-politik. Kajian ini diharap bisa menjelaskan hubungan antara symptom-symptom budaya dengan proses pembentukan identitas di ruang publik.

Simbol Sosial & Budaya

Pakaian sesungguhnya tidak hanya berfungsi sebagai kebutuhan dasar manusia untuk melindungi tubuh. Melalui pakaian, seseorang dapat menunjukkan identitas sosial dan budaya, maupun kepercayaan yang dianutnya. Cara berpakaian pun menjadi salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang menggambarkan status sosial, latar belakang hingga nilai-nilai yang dipegang oleh individu atau kelompok. 

Secara historis, berbagai kelompok masyarakat menggunakan pakaian sebagai penanda identitas kolektif. Misalnya, pakaian adat yang mencerminkan identitas etnis tertentu atau busana religius yang menandakan identitas keagamaan.

Baca juga: Membuka (Jalan) Kesetaraan

Simbol-simbol tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan begitu, pakaian tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga sebagai sarana representasi identitas yang memiliki makna sosial dan kultural.

Politik Identitas 

Ada pula politik identitas. Suatu fenomena sosial-politik yang menekankan urgensi identitas kelompok seperti agama, etnis, budaya dan ideologi dalam proses pembentukan solidaritas dan perjuangan kolektif. Politik identitas biasanya muncul ketika suatu kelompok merasa perlu menegaskan keberadaan serta hak-haknya ditengah masyarakat yang plural.

Pada konteks ini, simbol-simbol budaya sering digunakan sebagai alat untuk memperkuat eksistensi. Nah, pakaian menjadi salah satu simbol yang paling mudah dikenali. Melalui penggunaan atribut atau gaya berpakaian tertentu, suatu kelompok dapat menunjukkan identitasnya sekaligus membangun ikatan internal. Oleh karena itu, pakaian tak pelak menjadi bagian strategi simbolik dalam praktik politik identitas.

Ekspresi Politik

Banyak gerakan sosial maupun politik menggunakan simbol-simbol pakaian sebagai bentuk pernyataan identitas dan sikap ideologis. Umpamanya, penggunaan warna tertentu, pakaian tradisional, atau busana religius yang digunakan dalam kegiatan politik atau aksi sosial.

Penggunaan simbol pakaian tersebut dapat berfungsi sebagai alat mobilisasi massa, karena simbol visual lebih mudah dikenali dan dipahami oleh orang-orang. Selain itu, pakaian juga dapat menjadi sarana untuk membangun citra politik tertentu, sehingga pakaian tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga menjadi alat komunikasi politik dan ideologi. Satu di antara ekspresi politik paling nyata via busana ini bisa dilihat dari pakaian serba hitam dalam aksi kamisan di depan istana. 

Sampai sini, melalui tanda-tanda yang terkandung dalam pakaian, seseorang dapat menunjukkan afiliasi budaya serta keagamaan. Dalam masyarakat multikultural seperti di Indonesia, praktik berpakaian mengandung dinamika yang kompleks. Pakaian dapat menjadi sarana memperkuat kebanggaan terhadap identitas budaya dan agama. Tapi dalam beberapa kondisi melahirkan perdebatan ketika dikaitkan dengan kepentingan-kepentingan politik, yang pada akhirnya memunculkan gesekan sosial yang tak terhindarkan. 

Pada akhirnya, penting kiranya bagi masyarakat memahami fenomena ini dengan bijak dan kritis. Perbedaan dalam ekspresi berpakaian seharusnya dipandang sebagai bagian dari aktualisasi diri, kekayaan budaya sekaligus keberagaman identitas, bukan sumber konflik semata-mata.

Tak usah lekas mengecap atau memandang sinis seseorang yang menggunakan baju tertentu. Mari ciptakan kehidupan sosial yang harmonis, inklusif, dan menghargai variasi kultural di tengah laku masyarakat saban hari. 

Bagikan
Mahasiswa UIN Surakarta dan Penulis Syi’ir Santri 2023

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here