
Surakarta dikenal dengan sebutan kota yang memiliki banyak sejarah dan menyimpan berbagai rekaman informasi berupa teks, simbol, maupun prasasti. Tak heran bila banyak ditemukan tempat-tempat bersejarah serta rekaman informasi berupa manuskrip yang di dalamnya tertulis berbagai macam sumber ilmu pengetahuan.
Selain itu, monumen-monumen yang sampai saat ini masih berdiri, memiliki gaya arsitektur lama yang menjadi simbol dan jejak sejarah di Surakarta. Hal ini didukung dengan adanya latar belakang yang menyelimuti bangunan-bangunan, dengan berbagai macam bentuk baik agama, budaya, maupun politik.
Masjid Laweyan merupakan salah satu masjid tertua di Surakarta yang terletak kampung. Belukan, Pajang, Kecamatan Laweyan. Masjid Laweyan adalah salah satu situs sejarah peradaban Islam di Surakarta. Menurut pengurus masjid, masjid ini dibangun pada tahun 1546— yang merupakan sejarah peninggalan di kota Surakarta.
Baca juga: Masjid dan Gereja: Simbol Perdamaian Umat Beragama
Sebelumnya masjid ini adalah sebuah bangunan panggung yang digunakan untuk peribadatan umat agama Hindu di Jawa. Pada saat itu, di bawah pengaruh Ki Ageng Beluk. Konon katanya pada masa itu terjadi pertemuan Ki Ageng Beluk dengan tokoh lain yaitu Ki Ageng Henis yang dikenal sebagai tokoh Islam.
Kemudian Ki Ageng Beluk menyerahkan tempat peribadatan tersebut kepada Ki Ageng Henis yang kemudian diubah fungsinya menjadi sebuah masjid untuk umat agama Islam.
Namun, ada beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa Ki Ageng Beluk telah masuk Islam sebelum menyerahkan tempat itu kepada Ki Ageng Henis. Masjid Laweyan dengan struktur bentuknya yang sekarang ini merupakan sebuah prakarsa susuhunan Pakubuwono X sekitar tahun 1850-1875.
Masjid digunakan sejak awal berdirinya hingga tahun 1925 sudah dipakai untuk melaksanakan salat jumat di Surakarta. Pada saat itu, hanya ada 4 masjid yaitu, masjid Laweyan, masjid Agung, masjid Mangkunegaran serta masjid Kapatihan.
Kemudian pada tahun 1925 didirikannya masjid Tegalsari, yang merupakan masjid swasta yang dibangun oleh individu di luar keraton untuk pertama kalinya oleh seorang pimpinan Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta bernama KH. Syafawi, merupakan ayahanda dari Abdul Razak Syafawih.
Luas dari bangunan masjid ini yaitu 700 M²,panjang 20 M dan lebar 35 M. Masjid Laweyan ini terdiri dari beberapa bagian, pertama, bagian dalam dan serambi. Kedua, di samping sebelah kiri (dari mihrab), juga digunakan sebagai TPQ. Kemudian di pojok belakang sebelah kanan (dari mihram) diberi sekat untuk perempuan ketika mengikuti salat jama’ah. Ketiga, di bagian depan terdapat beduk dan kentongan serta kotak amal.
Keempat, di samping masjid sebelah kiri terdapat rumah penjaga makam keraton dan aula joglo. Di masjid Laweyan terdapat makamn Ki Ageng Henis dan Ki Ageng Beluk serta makam kraton yang merupakan tempat peristirahatan terakhir keluarga keraton.

Menurut Ketua ta’mir masjid yang bernama Sutanto, salah satu raja Pakubuwono II dimakamkan ditempat itu. Maka dari itu, masjid ini juga ramai dikunjungi oleh kalangan umat Islam baik masyarakat, santri, atau warga setempat untuk melaksanakan ziarah di makam tersebut.
masjid ini juga ramai dikunjungi oleh kalangan umat Islam baik masyarakat, santri, atau warga setempat untuk melaksanakan ziarah di makam tersebut
Selain itu, keturunan dari keluarga keraton biasa melakukan kunjungan atau berziarah saban bulan Sya’ban (ruwah), di mana hal ini wajib bagi semua keluarga atau keturunan keraton, baik yang ada di daerah Surakarta maupun di luar kota. Hal ini juga disampaikan oleh warga setempat, bahwa setiap bulan Sya’ban banyak keluarga keraton yang berziarah atau berkunjung ke tempat ini.
Jamaah Masjid Laweyan adalah masyarakat yang tinggal di sekitaran masjid Laweyan, baik yang tinggal di kelurahan Laweyan maupun Pajang. Namun secara garis besar, kelurahan itu menjadi bagian dari kecamatan Laweyan dan hanya dipisahkan oleh sungai.
Seturut cerita yang mengalir di masyarakat, sungai ini pernah menjadi sarana transportasi dan bandar pelabuhan kerajaan Pajang pada abad ke 16, yang disebut bandar kabanaran.
Baca juga: Mendorong Literasi Keagamaan di Masjid
Dan masjid ini berdiri kokoh tepat di depan sungai tersebut, disusupi sepenggalan jalan untuk menghubungkan kelurahan Laweyan dengan wilayah Sukoharjo. Namun, sampai sekarang masjid Laweyan sudah aktif digunakan, bukan hanya sebagai tempat peribadahan akan tetapi ada beberapa acara yang berkaitan dengan tradisi budaya seperti yasinan, ruwahan, muqoddaman, dst.
Tidak hanya itu, dulu masjid ini sebelum dijadikan sebagai tempat peribadahan, sekitar tahun 1965, masyarakat kurang mendukung dengan adanya pembangunan masjid. Sebab wilayah sekitar dahulu merupakan basis pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI).
Sejalan perkembangan masa kini, masjid Laweyan memiliki nilai kebudayaan yang melekat pada masyarakat yang menjadi salah satu simbol bersejarah di Surakarta.
Masjid Laweyan, sebagai situs sejarah peradaban Islam di Surakarta, memiliki nilai-nilai budaya yang tidak jauh beda dengan masjid-masjid lain yang ada di Surakarta. Namun, pada dasarnya, masjid Laweyan punya garis historisitas yang lekat dengan kebudayaan Jawa serta perkembangan Islam di daerah Laweyan, Surakarta.



