Ilustrasi dari Kompas.id

Salah satu hal mendasar yang perlu direfleksikan dari bencana yang terjadi di banyak wilayah yang berada di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh adalah keterhubungan antara manusia dengan alam. Hal itu tak lepas bahwa dalam gejolak yang terjadi pada peristiwa bencana, menguatnya campur tangan aktivitas manusia baik berupa pembalakan liar, pertambangan, dan usaha perkebunan sawit yang terus meluas.

Kayu-kayu gelondongan mengapung dan terseret arus banjir. Sedangkan di permukaan, tak sedikit dari para pejabat kita sibuk mendefinisikan dengan memberi tampikan keberadaan kayu itu bukan akibat praktik penebangan liar (illegal logging). Di kesempatan lain, negara pun mendapati kelimpungan untuk mendefinisikan respons akan keberadaan bencana. Banyak korban yang terlambat mendapatkan bantuan kebutuhan keseharian di tengah bencana.

Solidaritas justru muncul di kalangan rakyat di daerah lain, atau lazim dikenal dengan rakyat bantu rakyat. Mereka merasakan kesedihan apa yang dialami warga yang terkena bencana. Empati itu yang menggerakkan untuk melakukan penggalangan donasi dalam berbagai platform. Ini memberi ketersiratan, dunia adalah situs perjuangan yang tiada habisnya untuk terus menjadi manusia dan memanusiakan manusia.

Baca juga: Di Antara Sains dan Agama

Bersamaan dengan itu, ada sebilah tanya yang perlu diuraikan terkait bagaimana keterhubungan manusia dengan alam. Apa wacana yang bisa dilakukan ke depannya? Ini menegaskan banyak tindakan umat manusia di masa modern, yang berkemungkinan besar memberi dampak pada kerusakan alam. Keterangan itu terwakili dengan apa yang disebut dengan antroposentrisme. Manusia terpisah dari alam.

Dalam paparan Karen Armstrong lewat karyanya berjudul Sacred Nature: Bagaimana Memulihkan Keakraban dengan Alam (2023), mekanisme sains modern telah menjauhkan manusia dari relasinya terhadap alam.

Armstrong menambah kesinisan itu dengan menyebut situasi sejak revolusi ilmiah dan kemudian melahirkan revolusi industri yang berjalan hingga kini. Gugatannya pada sains, kemudian menempatkannya pada penawaran berupa menyadarkan kembali lewat mitos, tradisi, dan kepercayaan sejak lama untuk menjalin kembali hubungan dengan alam.

Jebakan Humanisme Universal

Antroposentrisme menempatkan manusia sebagai pusat. Segala apa yang dilakukan adalah didasarkan pada pemenuhan kebutuhan dalam upaya melanjutkan kehidupannya. Mereka kemudian melawan determinisme alam. Akhirnya, alam dalam nalar manusia direduksi menjadi sarana pemenuhan hasrat dengan beragam motifnya. Penguasaan itu kemudian dengan sendirinya menggeser paradigma manusia terhadap alam.

Alam adalah tempat bereksperimen manusia untuk melakukan apa saja, tanpa batasan. Di alam bawah kesadaran mereka membiarkan perusakan bahkan mengubah lanskap alam itu sendiri. Namun, perlu diketahui bersama bahwa hancur dan rusaknya alam dengan kehadiran bencana itu acap membawa ketidakadilan bagi manusia itu sendiri. Banyak manusia yang tidak memiliki maksud dalam mengeksploitasi alam, justru terkena balanya.

Artinya, dalam konstelasi kerusakan alam, ada manusia spesifik yang terstruktur menjadi penyebabnya. Mereka tentu tak lepas dari relasi modal atau kapital yang terlibat dalam usaha penambangan, pembalakan liar, dan segenap industri lainnya. Ahli filsafat Universitas Gadjah Mada Siti Murtiningsih (2023) menegaskan bahwa mereka perlu dimintai pertanggungjawaban atas segala yang terjadi.

Di alam bawah kesadaran mereka membiarkan perusakan bahkan mengubah lanskap alam itu sendiri. Namun, perlu diketahui bersama bahwa hancur dan rusaknya alam dengan kehadiran bencana itu acap membawa ketidakadilan bagi manusia itu sendiri

Jalan itu adalah keberpihakan negara dengan kebijakan yang disusunnya. Hanya saja, kita tidak bisa menutup mata bahwa ada kepentingan oknum yang malah melindungi relasi kapital tadi. Situasi itu membuat pelik, dan memafhumkan kalangan masyarakat secara umum yang akhirnya dipaksa menerima kerusakan dan dampak yang terjadi. Kondisi itu makin menyempitkan peluang mitigasi ke depannya sebagai upaya merekonstruksi nalar manusia yang terjerembab terus melawan determinisme alam.

Apa yang Dimungkinkan Sains?

Kita mengingat sebuah buku puisi garapan Saras Dewi berjudul Kekasih Teluk (Gramedia Pustaka Utama, 2022). Puisi-puisi Saras Dewi menyuguhkan kesakralan akan alam dan pemosisian ilmu dalam praktiknya untuk mengetengahkan keselarasan pada alam dan keberlanjutan hidup. Kita mendapatkan puisi berjudul “Ibu”.

Puisi tersebut memuat beberapa larik berikut: Aku tidak mau manusia menang/ Dalam perkelahian tidak setimbang dengan alam/ Sebab bila mereka menang, berarti mereka telah kalah/ Karena mereka sejatinya membunuh,/ Ibunya sendiri//.

Puisi tersebut menyiratkan pentingnya kerendahan hati dalam bersikap terhadap alam, Bumi yang dipijak manusia. Dalam arus peradaban, tentu itu tak lepas pada keberadaan sains, yang melahirkan anak kandung bernama teknologi yang mengikat pada laku manusia. Teknologi, menyitir esai Mochtar Lubis dalam bunga rampai berjudul Teknologi dan Dampak Kebudayaan (1985), memerlukan kesadaran dan sikap kritis dalam menilai dampaknya. Tidak saja pada kebudayaan, lingkungan hidup, masyarakat, hingga manusia pribadi.

Baca juga: Kerusakan Lingkungan dan Jejak yang Tertinggal

Sikap itu menjadi karakter yang begitu dibutuhkan dalam kegamangan akan perubahan dan perkembangan pada sains dan teknologi. Dalam ranah yang lebih sublim, itu menghubungkan kita pada etika terhadap alam dan keberlanjutan hidup. Maka, di sini sains mampu menjadi jembatan peradaban dari pemosisian manusia terhadap posisi alam. Sains sebagai matra kemajuan kemudian menaruh posisi sakral akan alam. Pemfungsian sains dilengkapi mitigasi untuk mengantisipasi kerusakan alam.

Tema itu menjadi pembahasan para saintis di era mutakhir. Kini memang manusia telah berada di era kepunahan keenam. Sejarah kepunahan dalam babak antroposen memang acap melahirkan paradoks. Permulaan antroposen adalah revolusi pertanian, berupa penjinakan hewan. Sapi dapat mengubah rumput liar menjadi metana. Pada satu sisi metana memberikan kegunaan, namun di disi lain sebaliknya, metana dapat menjelma menjadi gas yang mengubah iklim.

Pada aspek itu, astronom Amerika Serikat Ann Druyan di buku yang dalam terjemahan bahasa Indonesia berjudul Kosmos: Aneka Ragam Dunia (Gramedia Pustaka Utama, 2020), memberikan kisah epik akan optimisme terhadap sains. Ungkapnya berupa: “Ada masa depan yang berbeda, dunia lain yang mungkin. Antroposen dapat menjadi zaman kebangkitan manusia, ketika kita menanggapi tantangan dari kemampuan baru kita serta belajar menggunakan sains dan teknologi canggih namun selaras dengan alam.”

Titik tekan yang disampaikan oleh Ann Druyan adalah keselarasan. Meski tidak menampik bahwa pada era antroposen, manusia terus berada di posisi dominan, namun hal yang bisa diubah dalam menjalin hubungan keselarasan pada alam. Hal itu adalah watak bagaimana manusia melakukan fungsi aksiologi pada kebermanfaatan bersama. Bukan didasari kepentingan kelompok tertentu.

Dengan begitu, laju sains dan teknologi bisa kongruen dan selaras pada alam. Alam diposisikan sebagai wahana yang mesti dijaga dan dilindungi. Itu semua kemudian menjadi upaya untuk meninggalkan logika perlawanan pada determinisme alam, yang menjadi musabab terpinggirnya alam.

Hal ini semua tidak akan terwujud ketika dalam sebuah demokrasi mengabaikan sains. Ini membutuhkan sistem demokrasi yang menjadikan sains sebagai perangai ilmiah. Dalam praktiknya melahirkan kebijakan yang tegas tanpa pandang bulu untuk menutup kemungkinan eksploitasi dan perusakan alam. Sains sebagai matra untuk terus menaruh penghormatan pada alam.[]

Bagikan
Fisikawan Partikelir. Bergiat di Lingkar Diskusi Eksakta. Menulis Buku Sekadar Mengamati: Tentang Anak, Bacaan, dan Keilmuan (2022) dan Bersandar pada Sains (2022).

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here