Dalam sejarah peradaban Islam Jawa, nama Kiai Sholeh Darat sudah dikenal sebagai sosok ulama yang berperan penting dalam penyebaran Islam di pantai utara Jawa, khususnya Semarang. Hal ini terbukti dari rekam jejak Kiai Sholeh Darat yang banyak dikenal oleh masyarakat, bukan hanya melalui karya-karyanya melainkan juga analisis, pemikiran, dan kefasihan tuturannya dalam menyampaikan dakwah.


KH Sholeh Darat, dengan nama lengkap Muhammad Sholeh Ibnu Umar, lahir di Desa Kedung Jemblung, Mayong, Jepara sekitar tahun 1820 M, lalu meninggal dunia pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H atau 18 Desember 1903 M. Ayahnya bernama KH Umar, yang merupakan seorang ulama antikolonial yang terlibat dalam perang gerilya melawan penjajah pada masa Pangeran Diponegoro (Mustaqim, 2018).


Awal pendidikan KH Sholeh Darat dimulai dari ayahnya, KH Umar yang merupakan seorang ulama sekaligus mujahid yang berjuang dalam mengusir penjajah, sehingga jiwa anti kolonialisme sudah tertanam di dalam dirinya sejak lahir, melalui garis keturunan ayahnya. Di Jawa, beliau banyak berguru kepada para ulama-ulama besar seperti Muhammad Syahid seorang pengasuh pendok pesantren di Waturoyo, Margoyos, Kajen, Pati (Shokheh, 2011).


Awal Intelektual KH. Sholeh Darat
Dalam menambah pendidikannya, Kiai Sholeh Darat tidak hanya belajar dengan ulama besar di Jawa. Melainkan juga melakukan pengembaraan intelektual ke berbagai daerah untuk menuntut ilmu, hingga akhirnya sampai ke Mekkah yang dikenal sebagai pusat transmisi-transformasi pengetahuan keislaman di masa itu.


Pada paruh abad ke 19 M, kota Makkah bukan hanya dianggap sebagi kota tempat peribadatan haji umat muslim, tetapi juga sebagai kawah candradimuka pengembangan intelektual bagi para calon ulama Nusantara. Dari sinilah mulai berkembang berbagai pemikiran yang dimiliki oleh Kiai Sholeh Darat yang kelak membangun peradaban Islam di tanah Jawa.


Dakwahnya dimulai tidak hanya secara lisan melainkan juga tulisan yang menghasilkan kitab-kitab bernuansa Jawa. Salah satu kitabnya yang ditulis dengan bahasa Jawa (arab pegon) yakni kitab tafsir Faid al-Rahman, yang di dalamnya memuat berbagai penafsiran serta pemikiran Kiai Sholeh Darat dalam misi diseminasi ilmu keislaman di tanah Jawa.

Baca juga: Perdebatan Akademik Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd


Adanya kontribusi tersebut, tentu memberi sebuah lanskap gambaran bahwa, Kiai Sholeh Darat punya pengaruh besar dalam peradaban Islam Jawa. Karyanya yang bernuansa Jawa tentu memiliki latar belakang tersendiri, kenapa kitab yang ditulis olehnya memakai bahasa Jawa. Hal itu menujukkan Kiai Sholeh Darat berinisiatif melakukan strategi perlawanan budaya dan simbolisasi terhadap kolonialisme Belanda.


KH Sholeh Darat melakukan inisiatif budaya untuk mempertahankan indentitas kulturalnya, Karena pada sat itu muncul instruksi dari pihak penjajah Belanda agar menggunakan aksara latin dalam kepentingan administrasi maupun birokrasi (Mustaqim, 2018, h.48). Selain daripada itu, beliau berupaya memberikan sentuhan baru terhadap bahasa lokal untuk mengaktualisasikan pengetahuan yang selama ini dipahaminya.


Transmisi keilmuan melalui akasara pegon menjadi strategi jitu dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat yang ingin mengenal Islam. Hal ini terbukti lumayan efektif sebagai langkah awal yang bisa ditempuh waktu itu. Peran kontekstualisasi dalam menuangkan tulisan ini menjadi penting sebagai upaya jalan mudah bagi pembaca. Hal ini memberikan inspirasi bahwa ilmu bisa didapat melalui proses arabisasi yaitu pengalihan aksara dari arab menjadi pegon (Zulfa, 2021).


Nalar Pemikiran dalam Transmisi Keislaman

Seperti yang dijelaskan di atas, jati diri inteletualitas Kiai Sholeh Darat tak dapat dihindarkan dengan pemikirannya dalam membangun transformasi keislaman di tanah Jawa. Genealogi keilmuan Kiai Sholeh Darat dapat dirunut dari guru-guru beliau, yaitu Syaikh Muhammad al-Muqri al-Mashari al-Makki, kepadanya beliau belajar ilmu akidah, kemudian Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, kepadanya beliau belajar ilmu fiqih serta gramatika bahasa Arab.


Selanjutnya Kiai Sholeh darat berguru kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan dan Ahmad al-Nahawi al-Mishri al-Makki, untuk belajar ilmu tasawuf. Dengan melihat keilmuan yang dimilkinya tampak beliau menekuni ilmu fiqih sekaligus ilmu tasawuf.

Baca juga: Janturan: Ruang dan Pesan


Tak heran bila banyak ditemukan penafsiran atau pemikiran beliau mengenai ayat al-Qur’an yang bernuasa tasawuf. Prof. Abdul Mustaqim menjelaskan bahwa nalar tasawuf yang beliau miliki merupakan bentuk moderat (wasathiyah), sebab masih memperhatikan relasi semantik antara makna-makna batin dan makna dhahir. Dari sinilah kemudian muncul perkembangan ilmu tasawuf yang memiliki dua bagian.


Pertama, nalar sufi-Falsafi yang menerangkan model berpikir yang dilakukan oleh kelompok filosof tatkala menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, lebih menekankan dimensi batin dalam rangka memberi justifikasi terhadap konsep teori sufi-filsafi. Kedua, nalar sufi-Isyari yang merupakan sebentuk sikap moderat akibat konflik antara kelompok literalis (ulama rusum) dan kelompok sufi batiniyah.


Dengan demikian, adanya pemikiran yang dituang-sebarkan Kiai Sholeh Darat baik secara lisan maupun tulisan, merupakan sebuah usaha yang besar dalam perjuangan mentransformasikan pengetahuan Islam di tanah Jawa. Sementara itu, Kiai Sholeh Darat merupakan gurunya dari para ulama Nusantara yang banyak dirujuk serta dipakai pemikirannya dalam membangun perkembangan islam di zaman ini. Mustahil membicarakan gerakan dawah di Jawa tanpa menyinggung nama ulama ampuh satu ini.

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here