
Di atas bumi dan di kolong langit tidak ada yang pantas untuk dihindari dan dicari secara mati-matian. Kira-kira seperti inilah yang disampaikan Ki Ageng Suryomentaram untuk mengawali wejangan kawruh beja yang dimaknai sebagai pengetahuan tentang kebahagiaan.
Wejangan kawruh beja dituturkan Suryomentaram pada tahun 1931 di Surakarta, dicatat oleh muridnya yang bernama Oto Suastika. Naskah ini kelak diterjemahkan oleh Grangsang (anak Suryomentaram) pada tahun 1974 dan diterbitkan oleh Yayasan Idayu dengan judul Wejangan Pokok Ilmu Bahagia.
Sepanjang hidupnya, Suryomentaram melakukan rihlah di berbagai tempat seperti Klaten, Surakarta, Salatiga, Magetan dan seterusnya dalam rangka memberi ceramah tentang kemanusiaan dan kehidupan. Kala itu, pra-kemerdekaan sekian manusia mengalami kesedihan, kesusahan, kesengsaraan akibat adanya penjajahan. Apa yang dilakukan Suryomentaram berkaitan erat dengan kondisi pada saat itu. Bagaimana mereka bisa mendapati setetes kebahagiaan di tengah badai kesengsaraan.
Sebelum membahas wejangan kebahagiaan Ki Ageng Suryomentaram lebih jauh, kita tilik terlebih dahulu bagaimana bahagia dalam pandangan beberapa tokoh. Bisa diawali dari Anda sendiri, bagaimana bahagia menurut versi Anda?
Socrates, sesosok filsuf pada masa Yunani, misalnya, menyebut bahwa cita-cita hidup manusia ialah untuk mencapai kebahagiaan yang disebut eudaimonian, yakni konsep kehidupan yang bermakna, bahagia, dan berkualitas tinggi. Sementara kebahagiaan bagi Aristoteles, adalah kehidupan yang dijalani dengan baik atau melakukan kebajikan untuk memperoleh kehidupan yang utuh.
Ilmuwan dan filsuf muslim Al-Farabi, dalam karyanya al-Tanbih al-Sa’adah, kebahagiaan akan tercipta ketika melakukan kebaikan tanpa pamrih, maka dengan melakukan kebaikan akan membuat bahagia. Sedang teolog muslim Al-Ghazali berpendapat, bahwa kebahagiaan merupa keadaan tatkala kita merasa dekat kapada Sang Pencipta, semua itu dapat kita tempuh melalui ilmu dan amal.
Beberapa tokoh di atas memandang jika kebahagiaan dapat diraih oleh manusia, bahkan menjadi cita-cita hidup manusia. Mereka memiliki rumusan masing-masing dalam menentukan hidup bahagia. Kebahagiaan akan tercapai bila kita bisa melakukan suatu hal atau mencapai kondisi tertentu.
Hal ini menjadi menarik jika dibandingkan dengan pandangan Suryomentaram tentang kebahagiaan.
Suryomentaram tidak membuat rumusan ketat bagaimana kita dapat bahagia, melainkan bagaimana kita memahami ada apa sebenarnya di balik kebahagiaan itu.
Gagasan dan wejangan Ki Ageng Suryomentaram ini tertuang dalam buku Wejangan Pokok Ilmu Bahagia. Ada empat bagian yang terdapat dalam buku tersebut. Bagian pertama bicara seneng-susah, yakni senang dan susah itu sifatnya tidak menetap. Kebahagiaan seorang pada umumya mengacu pada keinginannya. Keinginan itu terbentuk atas pengalaman pribadi baik dalam bentuk tindakan, perkataan, maupun pemahaman dari sebuah bacaan.
Baca juga: Tradisi Munggahan di Tatar Sunda
Suryomentaram tidak menjanjikan kebahagiaan ataupun kiat-kiat hidup bahagia, melainkan mengajak kita untuk memahami yang namanya karep (keinginan). Keinginan ini menjadi salah satu sumber rasa seneng-susah. Rasa senang disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai akan mulur (memanjang), sehingga muncul rasa ingin terus menerus, maka timbulah rasa susah.
Begitu juga rasa susah dikarenakan suatu keinginan yang tidak tergapai, kemudian keinginan itu akan mungkret (menyusut) sehingga apa yang diinginkan mungkin akan lekas tercapai. Artinya, keinginan itu jika mungkret maka akan tercapai apa yang diinginkan, dan ketika tercapai timbullah rasa senang, kemudian rasa senang itu akan mulur.
Jika keinginan itu mulur maka keinginan itu tidak tercapai dan muncul kembali rasa susah, ketika ada rasa susah akan mungkret kembali, sehingga keinginan itu tergapai dan lahir rasa senang. Sederhananya, mulur membuat keinginan tidak tercapai sehingga muncul rasa susah, seolah target atau hasil akhir ada di puncak yang sangat jauh. Saat susah kita akan mungkret lagi, sehingga kemauan tercapai dan muncul rasa senang.
Bila agak kesulitan memahami pengandaian di atas, cerita berikut kiranya dapat membantu memahami konsep mulur mungkret ala Suryomentaram:
Seorang mahasiswa ketika menjelang hari raya idulfitri ingin sekali membeli sarung. Suatu waktu, sarung itu dapat dimilikinya, keinginan itu mulur, seandainya aku punya kemeja baru, pasti aku akan lebih bahagia. Meskipun ia sudah punya sarung baru, hal ini tidak menjamin bahagia, karena keinginan memiliki sarung baru telah beranjak pada keinginan yang lain.
Keinginan itu sifatnya bergerak, jika keinginannya terpenuhi, keinginan itu bakal mulur, dan jika keinginan itu tidak terpenuhi maka akan mungkret.
Mungkret ini seperti menjadi resiliensi kala keinginannya tidak terpenuhi, ia akan kembali pada keinginan yang telah tercapai, sehingga ia merasa bahagia. Bisa juga kita pahami seandainya kita belum bisa memiliki kemeja baru, setidaknya kita bersyukur telah memiliki sarung baru.
Baca juga: Janturan: Ruang dan Pesan
Dari sini, Suryamentaram ingin menegaskan bahwa manusia sejak kecil hingga tua akan merasakan sebentar senang – sebentar susah. Jangan fokus pada rasa senang dan susahnya, tetapi cermati apa yang menyebabkan kita merasa senang dan susah, salah satunya yang dapat kita amati adalah keinginan dalam diri.
Kaum Stoikisme juga pernah menegaskan, bahagia itu akan didapati oleh mereka yang mampu mengendalikan pikiran dan keinginannya.
Dalam buku Wejangan Pokok Ilmu Bahagia masih terdapat tiga bagian yang belum dijabarkan dalam tulisan ini; Roso Sami, Roso Abadi, dan Nyawang Karep. Saya jabarkan bila ada kesempatan berikutnya.
Sebagai penutup, sebesar apapun rasa bahagia kita pasti akan berakhir, dan sebesar apapun rasa susah kita juga pasti akan berakhir. Jangan sampai hanya karena rasa senang maupun susah kita lupa dengan diri sendiri.






