Gambar ilustrasi dari Kompasiana

Bahasa daerah yang paling sering mendapat stigma negatif adalah bahasa Ngapak. Sebuah bahasa yang punya dialek cukup medok. Bahasa Ngapak, merupakan salah satu ragam bahasa Jawa yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat provinsi Jawa Tengah sebelah Barat. Bahasa ini nyaris digunakan oleh masyarakat penutur di seluruh wilayah Eks Karesidenan Banyumas dan Pekalongan.

Bahasa satu ini memiliki segudang reputasi buruk. Tentu saja ini sangat mengandung stereotip. Ada yang menganggap lucu, ndesa, atau bahkan katrok karena sering dibuat lelucon dalam bahasa Ngapak.

Penutur bahasa Ngapak yang dibesarkan di lingkungan Ngapak, tidak sedikit yang memilih untuk meninggalkan bahasa asli mereka akibat stigma tersebut. Mereka ingin menyembunyikan identitas linguistik Ngapak-nya karena merasa minder.

Walau demikian, kini banyak anak muda yang punya bahasa Ibu Ngapak sadar bahwa ini adalah anugerah dan kekayaan tradisi. Tanpa rasa minder, mereka menggunakan bahasa ngapak bahkan sampai membuat konten kreatif berbahasa lokal tersebut, seperti tercermin dari salah satu youtuber asal Kebumen, Deedee Ka.

Siapa sangka, di balik reputasi yang buruk tersebut ada sejarah luar biasa bagi peradaban Jawa dan memiliki keistimewaan dalam bahasa tersebut.

Sekilas tentang Bahasa

Sejumlah ahli mengatakan bahwa bahasa Ngapak adalah bentuk bahasa Jawa yang asli. Bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat Jawa tengah bagian timur “Non-Ngapak” adalah bahasa Jawa baku yang telah melewati lima tahap sejarah bahasa Jawa yang terbentuk pada zaman Pujangga Baru pada abad ke-18. Sedangkan bahasa Ngapak adalah bahasa Jawadwipa atau Jawa tahap awal yang dapat diartikan sebagai bahasa murni masyarakat Jawa.

Baca juga: Haul Raden Kusumadjati

Perubahan tersebut berawal dari banyaknya kerajaan yang berdiri di Jawa sehingga menciptaan kultur feodalisme, dan dampaknya, bahasa Jawa dibuat bertingkat-tingkat berdasarkan status sosial. Bahasa Jawa baku diciptakan untuk memperjelas perbedaan strata antara lingkup keraton dan luar keraton.

Istimewa

Masyarakat Ngapak cenderung jujur karena blakasuta atau apa adanya. Orang ngapak lebih suka mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya tanpa basa-basi, sehingga sering perkataan yang dikeluarkan orang Ngapak membuat tidak nyaman bagi pendengar.

Bahasa Ngapak dikembangkan oleh masyarakat agraris yang sederhana, tidak seperti di keraton Jawa, yang dikembangkan oleh kaum priyayi untuk mendukung kelas sosial mereka yang tinggi. Oleh karena itu, ungkapan bahasa ini juga menyampaikan cara hidup yang dijalani masyarakatnya secara sederhana.

Bahasa Jawa baku diciptakan untuk memperjelas perbedaan strata antara lingkup keraton dan luar keraton

Karena kesederhanaanya, bahasa ini bersifat spontan. Orang Ngapak cenderung lebih impulsif saat berbicara Ngapak. Penutur bahasa Ngapak pun lebih suka membuat frasa lugas yang mencerminkan pemikiran mereka, sebab orang Ngapak tidak terlalu memperhatikan kerapian gramatikal. Sifat ini berkaitan dengan sikap hidup orang Ngapak yang egaliter.

Menurut masyarakat Ngapak, tidak ada hierarki sosial yang berlebihan antara bangsawan dan rakyat jelata. Mereka mendukung terciptanya masyarakat di mana setiap orang diperlakukan sama atau setara “egaliter”. Alhasil, masyarakat ngapak terbiasa memperlakukan orang lain sebagai partner.

Selain bersifat jujur, egaliter, dan spontan masyarakat Ngapak juga disebut masyarakat yang dekat dengan alam. Terdapat istilah di daerah Ngapak yakni “adoh ratu cedhak watu”, istilah tersebut dapat diartikan masyarakat daerah Ngapak jauh dari ratu (penguasa) dan dekat dengan batu (alam lingkungan). Hal itu dapat dilihat dari kebanyakan masyarakat daerah Ngapak yang memiliki profesi yang berkaitan dengan alam seperti petani dan nelayan.

Baca juga: Masjid Laweyan: Situs Sejarah Peradaban Islam di Surakarta

Dapat dikatakan masyarakat daerah Ngapak juga bersifat berani dan tegas, mengapa demikian? Dapat kita lihat dari sejarah ketika kerajaan Mataram berkuasa dengan mengganti tata bahasa Jawa seperti vocal “a” diganti menjadi “o”, lalu membuat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkatan guna membuat perbandingan kelas sosial, tetapi masyarakat Ngapak tetap teguh terhadap bahasa Jawadwipa dan tidak mempedulikan kelas sosial atau bisa disebut egaliter.

Masyarakat Ngapak membuat keputusan tersebut sebab paham, bahwa kerajaan Mataram mengubah bahasa merupakan keputusan politik yang berorientasi pada penaklukan kultural.

Berikut adalah sekilas uraian tentang keistimewaan bahasa Ngapak, yang mungkin masih banyak lagi keistimewaan lain yang penulis belum tahu. Belum lagi rupa bahasa dan pelafalan benda-benda yang di masing-masing daerah, tentu saja berbeda, baik nama maupun aksentuasinya.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari sejarah sebuah bahasa, seperti halnya terkait kesederhanaan, berperilaku jujur apa adanya, dan yang paling penting menurut saya belajar setara—tidak peduli status sosial, kaya atau miskin, pejabat, atau rakyat di sana semua toh bisa membaur bersama-sama.

Jadi, kita selau warga berbahasa Ngapak tidak perlu minder terhadap omongan-omongan orang lain yang menganggap bahasa Ngapak lucu maupun katrok. Percaya diri saja.

Ora ngapak ora kepenak!

Bagikan
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Raden Mas Said Surakarta

Tinggalkan Balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here